Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Lebih Parah Ketimbang Erupsi Raung

Safitri • Rabu, 16 September 2020 | 21:03 WIB
BERANTAS PENYAKIT: Petani di Desa Dukuhdempok, Wuluhan, melakukan penyemprotan serentak guna pengendalian hama tanaman padi, kemarin (9/2).
BERANTAS PENYAKIT: Petani di Desa Dukuhdempok, Wuluhan, melakukan penyemprotan serentak guna pengendalian hama tanaman padi, kemarin (9/2).
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Rahmat, 52, bersama empat rekannya mulai mengangkat daun tembakau yang telah dijemur. Tembakau jenis voor oogst kasturi warnanya sudah mulai coklat. Waktu yang tepat untuk melego. Tapi, si daun emas, julukan tembakau itu, tak lagi berdaya seperti dulu.

Rahmat memang bukan pemilik tembakau tersebut. Dia hanya buruh yang digaji setiap hari kerja. Naik turunnya harga tembakau, setidaknya diketahuinya. “Harganya murah sekarang, sekitar Rp 2,5 juta per kuintal,” jelasnya. Jika tahun kemarin, harga per kuintal bisa mencapai Rp 5,5 juta,” ucapnya.

Pria asal Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut tidak begitu tahu bagaimana derita petani tembakau saat ini. Ya memang, di tengah pandemi korona, tak hanya petani hortikultura yang menjerit. Petani tembakau bahkan terasa tergencet dengan liku-liku harga tembakau. “Tembakau krosok (voor oogst kasturi, Red) sekarang luar biasa,” kata Hendro Handoko.

Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember itu melanjutkan, maksud ‘luar biasa’ adalah hampir sama dengan tahun 2015, saat Gunung Raung erupsi. Pada waktu itu, gudang tembakau tidak mau membeli tembakau Jember akibat terpapar abu vulkanik. “Kalau dulu masih ada pabrik kecil yang mau buka. Tapi sekarang pabrik tutup, petani kaget,” jelasnya.

Anehnya, lanjut Hendro, pabrik pembelian, termasuk gudang, justru mau membeli daun tembakau yang tumbuh di bagian bawah saja. Akibatnya, daun bagian tengah hingga pucuk tak mau membeli. “Daun bagian tengah sampai ke atas malah tidak mau dibeli,” tuturnya.

Kondisi itu tentu saja di luar prediksi petani selama ini. Apalagi, petani tembakau krosok sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas bias terjual, bukan di bawah saja. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas itulah yang kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Perusahaan yang hanya menerima daun bagian bawah, tidak hanya satu perusahaan. Melainkan juga seluruhnya. Bahkan, petani yang bermitra pun kondisinya sama. Per kuintal daun bawah dihargai Rp 700 ribu hingga Rp 1,8 juta. “Tahun kemarin daun bawah dihargai Rp 2,5 juta,” jelasnya.

Bahkan, kata dia, tak semua pabrik termasuk gudang antara tidak selalu buka. Pada umumnya, akhir Agustus gudang pembelian itu buka dan menerima tembakau. “Tidak semua buka. Jika buka, maka dua hari buka. Selanjutnya tutup,” jelasnya.

Pria yang juga sebagai Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau itu juga tak tahu apa alasan perusahaan hanya membeli daun bagian bawah. Bila alasan korona, tentu saja tidak begitu logis. “Rokok itu ibarat jadi kebutuhan perokok. Mereka akan tetap merokok walau pandemi. Jadi, penurunan penjualan tidak akan begitu drop. Tapi anehnya kok tembakau bagian bawah saja yang dibeli,” jelasnya.

Derita petani sekarang tidak hanya yang menanam hortikultura, tetapi juga merambah ke tembakau. Harga tebasan saja per pohon hanya 800 rupiah. Harga itu sudah di luar nalar. Bila pemerintah diam saja, maka pertanian Jember bisa hancur. “Jember tidak lagi jadi kota tembakau kalau seperti ini,” paparnya.

Hendro mengatakan, tembakau yang tidak laku tentu saja tidak seperti gabah. “Gabah itu bisa disimpan di rumah petani. Tapi kalau tembakau, tidak asal-asalan untuk menyimpannya,” terangnya.

Memang tembakau bisa disimpan, tapi ada perlakukan khusus agar kualitas tembakau terjaga. “Kalau petani tidak bisa menyimpan secara mandiri tembakau krosok yang telah mengering itu. Butuh tempat khusus dan perawatan,” ujarnya.

Sementara itu, publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) di Jember Dalam Angka 2020, total produksi tembakau di Jember pada 2019 mencapai 1.932,5 ton dengan luas tanam 12.279 hektare. Jumlah itu meningkat dibanding tahun 2018 dengan 1.669,3 ton dengan luas tanam 10.137 hektare.

Dari seluruh total produksi tembakau di Jember 2019, tembakau dengan varietas voor oogst kasturi paling tinggi dengan 15 ribu kuintal. Sisanya adalah na oogst. Paling rendah adalah voor oogst rajang. Daerah tertinggi produksi voor oogst kasturi di Jember pada 2019 adalah Kalisat yang mencapai 4,1 ribu kuintal. Editor : Safitri
#tembakau #Jember #Headline #Pertanian