Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi gabah kering giling (GKG) Jatim pada 2018 mencapai 10,5 juta ton. Produksi GKG terbesar adalah Kabupaten Lamongan sebesar 924 ribu ton dengan luas panen 151 ribu hektare, Bojonegoro 757 ribu ton dengan luas panen 141 ribu hektare, Ngawi 753 ribu ton dengan luas panen 124 ribu hektare, dan posisi keempat Kabupaten Jember yang mencapai produksi GKG 745 ribu ton dengan luas panen 133 ribu hektare.
Peningkatan pun terjadi pada produksi beras di Kabupaten Jember. Total produksi padi mencapai 997.838 ton dan luas 157.344 hektare. Artinya, ada peningkatan luas panen dari sebelumnya, yaitu 133 ribu hektare menjadi 157 ribu hektare.
Produksi beras Jember yang tinggi juga diakui oleh Bulog. Kepala Bulog Subdivre Jember Budi Sultika mengatakan, stok gudang beras di Jember setiap tahun selalu aman, bahkan surplus. Dalam urusan pengadaan beras, Bulog Jawa Timur secara nasional menjadi urutan kedua setelah Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk pengadaan beras dari Bulog, Jember setidaknya masuk tiga besar. “Urutan kedua, setelah Bojonegoro,” jelasnya.
Dia mengakui, potensi Jember ini melimpah, termasuk urusan beras. Budi pun menegaskan pengadaan beras Bulog Jember itu dari petani Jember, tidak diambil dari daerah lain. “Stok kami sekarang ada 46 ribu ton. Itu sangat cukup hingga akhir tahun, termasuk dalam penyaluran bansos beras dari Kemensos,” tuturnya.
Selama pandemi Covid-19 ini, Bulog Jember juga mendistribusikan stok beras ke daerah lain, seperti di Madura, Nusa Tenggara, dan Papua. “Madura sekitar 4 ribu ton, Papua 1.700 ton, dan NTT 1.500 ton,” jelasnya.
Sayangnya, tingginya produksi beras di Jember tak diiringi dengan harga gabah kering panen (GKP). Jember yang merupakan empat besar produksi gabah di Jawa Timur, tidak masuk ke lima besar dengan rata-rata harga gabah tertinggi. Harga GKP tertinggi di Jawa Timur yakni Ponorogo Rp 5.090 per kilogram. Disusul Madiun, Kediri, Magetan, dan Lamongan dengan harga GKP Rp 4.829 per kilogram. Sementara di Jember, harga GKP per kilogram adalah Rp 4.279. Padahal daerah tetangga Jember, Banyuwangi, mencapai Rp 4.390 per kilogram, dan Bondowoso Rp 4.315 per kilogram.
Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Dadang Hardiwan menjelaskan, produksi gabah cukup tinggi selama panen raya, sering kali tidak diikuti dengan kualitas yang baik karena faktor cuaca. Contohnya adalah seperti curah hujan yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan mutu gabah hasil panen tidak sesuai dengan ekspektasi.
Turunnya kualitas hasil panen akan berdampak pada rendahnya harga jual. Secara umum, komponen mutu gabah diukur berdasarkan persentase kadar air dan kadar hampa atau kotoran. “Rata-rata persentase komponen mutu gabah hasil panen yang diperjualbelikan selama tahun 2019 cenderung fluktuatif,” ucapnya.
Rata-rata kadar air GKP bervariasi antara 18,49 persen yang terjadi pada bulan Desember hingga 21,53 persen pada bulan Maret. Pada bulan Juli survei harga produsen gabah di Jatim menunjukkan rata-rata harga gabah 4.552 di tingkat petani, sedangkan 4.624 di tingkat penggilingan. Editor : Safitri