Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Seharusnya Tidak Ada Buta Aksara

Safitri • Kamis, 10 September 2020 | 20:34 WIB
WISATA BUS: Jajaran Direksi Jawa Pos Radar saat menikmati ngopi on the bus keliling Kota Jember, kemarin (28/10) malam. Mereka juga merasakan sensasi malam di Kafe Tebing Taman Botani Sukorambi, sesuai menggelar rapat bersama di Hotel Aston Jember, siang
WISATA BUS: Jajaran Direksi Jawa Pos Radar saat menikmati ngopi on the bus keliling Kota Jember, kemarin (28/10) malam. Mereka juga merasakan sensasi malam di Kafe Tebing Taman Botani Sukorambi, sesuai menggelar rapat bersama di Hotel Aston Jember, siang
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Aksara Internasional pada 8 September lalu diperingati dengan beragam agenda. Mulai dari ulasan sejarah, lomba, hingga literasi budaya. Namun, tak sedikit yang menyinggung tentang buta aksara pada momen ini, khususnya di Jember.

Bagi Museum Huruf Jember, sejatinya masyarakat Jember tidak ada yang buta aksara. Melainkan buta huruf latin. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelaksana Museum Huruf Erik Wijayanto. Dirinya menjelaskan, ada persepsi yang salah mengenai istilah aksara untuk pemakaian buta aksara.

Menurutnya, di Indonesia, bahkan di Jember, seharusnya tidak ada orang buta aksara. Sebab, sejarah aksara sangat panjang dan sudah ada ribuan tahun telah menjadi peradaban umat manusia. Begitu juga di Indonesia. Aksara diketahui masuk di Indonesia melalui penemuan prasasti yang terdapat aksara Palawa di Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Bahkan, menurut Erik, dari aksara berupa simbol-simbol hingga menjadi aksara yang bisa dilafalkan secara verbal. “Hanacaraka termasuk aksara Jawa modern,” ujarnya.

Sebab, banyak orang yang dianggap buta aksara itu bisa mengaji, membaca Arab pegon, hingga membaca tulisan aksara Jawa. “Kalau bisa mengenal aksara apa pun itu namanya, bukan buta aksara,” jelasnya. Bahkan, menurut Erik, bisa jadi saat kolonial masuk ke Indonesia dan mengenalkan huruf latin, bangsa Indonesia sebelumnya telah bisa membaca huruf Arab, aksara Jawa, ataupun lainnya.

Sementara itu, Direktur Museum Huruf Ade Shidiq berpendapat, istilah yang lebih tepat adalah buta huruf latin atau huruf romawi. Dia mengaku, memakai huruf asal negeri sendiri seperti aksara Jawa ataupun Kawi perlu dilestarikan. Bila hanya tetua saja yang paham huruf yang dianggap kuno itu, tentu saja hanya menghitung waktu hingga huruf warisan nenek moyang akan punah. “Sehingga budaya literasi, termasuk literasi aksara, perlu diketahui oleh setiap generasi,” tuturnya.

Sebagai informasi, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2019 menunjukkan rata-rata lama sekolah pada 2018 yaitu 6,07 tahun. Artinya bahwa secara rata-rata penduduk Kabupaten Jember yang berusia 15 tahun ke atas hanya mengenyam bangku pendidikan sekolah selama 6,07 tahun atau setara dengan kelas VI SD. Walau begitu, dari tahun ke tahun rata-rata lama sekolah penduduk di Jember itu meningkat. Pada 2012, rata-rata lama sekolah di Jember 5,58 tahun dan 2018 menjadi 6,07 tahun. Editor : Safitri
#Jember #Pendidikan