Pengamen karaoke yang membawa sound system mini tersebut membuat Sugiati, warga setempat, terhibur. Dia tidak sekadar memberi uang sebagai apresiasi kepada sang pengamen, tapi juga ikut larut berkaraoke. Karaoke jalanan di perkampungan juga mengundang perhatian tetangga. Subaida pun turut ikut berkaraoke. “Ojok lagu sing sedih ngunu lho, Pak (jangan lagu yang sedih begitu Pak, Red). Yang ceria, dangdut Banyuwangian,” kata Sugiati kepada pengamen karaoke itu.
Karaoke di gang sempit depan rumah sambil menggoyangkan badan membuat Sugiati dan Subaida terhibur. Bahkan, sejumlah anak juga larut dalam keasyikan siang itu. Satu dua tiga lagu selesai, kedua ibu rumah tangga itu mulai mengeluarkan lembar Rp 5 ribu sebagai jasa pengamen yang telah menghibur mereka.
Pengamen karaoke itu bernama Sunito. Dengan mengenakan topi, suara merdu Sunito saat mengamen pas dengan nada musiknya. Saat ditanya bagaimana suaranya bisa semerdu itu, Sunito hanya tersenyum malu.
Namun, bila ditelisik lebih lanjut, nyatanya Sunito tidak sekadar pengamen biasa. Tapi pengamen yang ingin memuaskan telinga para pendengar. Di kampung halamannya di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Sunito tidak hanya berprofesi sebagai pengamen. Dia juga lihai dalam tarik suara. Setiap ada lomba nyanyi agustusan, Sunito kerap kali menyabet juara tingkat kecamatan. “Kalau ada lomba di kecamatan lain seperti di Maesan, Bondowoso, ataupun Kalisat, ya ikut. Terakhir di Maesan memang juara 1,” paparnya.
Sunito mulai jadi pengamen 10 tahun lalu. Tapi, kala itu hanya membawa sebuah gitar. Bila tidak ada pekerjaan sebagai buruh tani, Sunito berangkat dari rumahnya pukul 07.00. Memakai motor bebek, dia menuju Terminal Arjasa. “Motor parkir di Terminal Arjasa. Selanjutnya ya keliling,” ujarnya. Sekitar jam 12 siang, Sunito kembali pulang. Bila ada tenaga, dia lanjut mengamen pada sore harinya.
Di tengah pandemi korona, tentu saja pendapatannya sebagai pengamen merosot tajam. Di hari normal, dia bisa membawa pulang Rp 50-70 ribu. Saat korona, hanya Rp 20 ribuan saja. “Tapi itu dulu, saat awal kali korona melanda di Jember, April-Mei. Bahkan, kerap kali warga menutup diri dengan kehadiran orang asing,” ujarnya.
Sekarang, kata dia, dia merasa senang. Bukan soal pendapatannya mulai naik, tapi senyum ceria warga yang rindu karaoke telah terobati.
Seperti Sugiati misalnya. Dia mengaku sangat suka dengan karaoke. Sejak korona, tidak ada tempat lagi untuk menyalurkan hasratnya untuk karaokean. Kini, ada pengamen yang bisa memberikan wahana untuk berkaraoke, setidaknya menjadi pelipur lara baginya. Selain karaoke dengan pengamen, juga mulai kembali bergulir karaoke bersama ibu-ibu kampung. Editor : Safitri