Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kalau Malas Beli Solar, Tak Ada Lampu Menyala

Safitri • Senin, 31 Agustus 2020 | 21:30 WIB
FOKUS: Dyan Murdiyanto tampak fokus mendesain salah satu pesanan berupa case PC berbahan akrilik, belum lama ini. (ISNEIN PURNOMO/RADAR JEMBER)
FOKUS: Dyan Murdiyanto tampak fokus mendesain salah satu pesanan berupa case PC berbahan akrilik, belum lama ini. (ISNEIN PURNOMO/RADAR JEMBER)
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pohon mangga menjadi peneduh yang nyaman saat bercengkerama di teras Sasmito. Berada di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, pria yang satu ini kerap didatangi warga untuk meminta pertolongan. “Niki HP-ku kenopo nggeh (Ini HP saya kenapa ya, Red),” tanya tetangga Sasmito.

Ya, di sekitar rumahnya, Sasmito dikenal piawai dalam memperbaiki telepon genggam. Apalagi dia juga membuka usaha konter HP tak jauh dari kediamannya. Selain dikenal memperbaiki HP, dia juga suka utak-atik kelistrikan. Di rumahnya juga ada serangkaian aki kering yang dirangkai sedemikian rupa. Ada kabel yang menjulur ke atas.

Siapa sangka, aki kering ini menjadi penyimpan daya energi listrik yang dihasilkan dari panel surya. Listrik dari panel surya inilah yang membuat lampu di rumah Sasmito terus menyala, walau aliran listrik dari PLN padam.

Energi panel surya tersebut memakai arus DC. Tidak lagi AC seperti kelistrikan rumah pada umumnya. “Kalau pakai AC lebih boros, enak DC. Sebenarnya ya bisa dibuat AC,” jelasnya.

Energi listrik gratisan dari matahari, kata dia, hanya dipakai untuk penerangan saja. Sedangkan listrik untuk televisi, mesin cuci, dan perangkat elektronik lainnya tetap pakai PLN. Lampu LED-nya pun diubah jadi 12 volt saja, agar lebih hemat energy.

Rumah Sasmito bukan termasuk rumah pedalaman yang tidak teraliri listrik negara dari PLN. Tapi dirinya sengaja tetap memakai panel surya, lantaran pusing jika listrik dari PLN itu padam. “Kalau di kota enak, jarang padam. Kalau di desa bisa dikatakan sering. Ya beginilah hidup di desa,” ujarnya.

Setidaknya, lanjut dia, seminggu sekali listrik di desanya itu padam. “Nggak ada hujan nggak ada angin ya padam,” terangnya. Oleh sebab itu, dia pun semakin mantap memasang panel surya di rumahnya.

Sebelum memasang panel surya, Sasmito dibantu rekan-rekannya juga memasangkan sekaligus merangkai panel surya di rumah warga yang tidak mendapatkan listrik negara. Dimulai pada 2012 di daerah Slerok, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo. “Pokok lewat Sempolan, Silo. Naik terus ke atas, ke kaki Gunung Raung,” paparnya.

Dengan pengetahuan elektronikanya, Sasmito mulai merangkai panel surya dan mampu menghidupkan lampu serta televisi LED. Dia mengaku, pada 2012 lalu teknologi panel surya masih belum dipahami masyarakat awam. Ditambah lagi harganya tidak terjangkau bagi orang-orang perdesaan.

Harga panel surya 40 watt beserta instalasi dan serta aki dipatok senilai Rp 2,5 juta. “Kalau sekarang panel suryanya atau solar cell-nya saja itu murah, 100 watt saja harganya satu jutaan. Ada yang kurang dari satu juta. Dulu 100 watt panel surya saja di atas Rp 2 juta,” ungkapnya.

Pria yang hanya merupakan lulusan SMP ini juga terus menerima jasa pemasangan panel surya ke lokasi sulit listrik. Seperti di daerah Pantai Bandealit. Di Kawasan yang masuk Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini, warganya selama ini hanya mengandalkan listrik dari pembangkit genset. “Listrik baru ada ya mulai Magrib sampai sekitar pukul 9-10 malam saja. Siang tidak ada listrik,” ujarnya.

Bila dibandingkan dengan listrik PLN 450 watt subsidi, Sasmito mengakui biayanya tentu lebih murah PLN daripada solar cell. “Lebih murah PLN. Tapi warga pasang solar cell, listriknya pakai genset. Kalau pakai genset ya lebih murah solar cell,” tuturnya.

Dia mencontohkan, satu genset yang berada di kampung nelayan Pantai Bandealit digunakan untuk dua rumah. Mulai Magrib hingga pukul 9 atau 10 malam, mereka menghabiskan empat liter solar. Dengan asumsi harga solar Rp 10 ribu per liter, maka satu rumah per bulan menghabisan Rp 600 ribu, dan satu tahun mencapai Rp 7,2 juta.

Nah, biaya setahun tersebut bisa membeli solar cell. “Kalau solar cell biaya dikeluarkan lagi itu aki, usianya sekitar 2 tahun. Kalau panel suryanya bisa 20 tahunan dengan catatan tidak pecah,” jelasnya.

Kini, pemasangan panel surya tidak begitu ramai seperti dulu. Sebab, kata dia, sudah banyak bantuan dari pemerintah untuk masyarakat pedalaman yang tidak terakses PLN. Tapi, setidaknya lewat solar cell, membuktikan bahwa Indonesia ini kaya dengan energi terbarukan. Sebagai negara tropis dengan paparan matahari melimpah, energi terbarukan menjadi jawaban tentang kemandirian energi. Editor : Safitri
#Jember #PLN