DWI SISWANTO, Klakah, Radar Jember
RUMAH sederhana di Dusun Tambak Boyo, Desa/Kecamatan Klakah, Lumajang, itu telah jadi magnet para pelaku usaha berbasis jamur. Terdapat rombong bertuliskan bakso jamur. Di menunya juga ada es krim jamur, lumpia jamur, dimsum jamur, hingga berbagai makanan berbasis jamur. Bagian atas rumah juga terpampang tulisan Politeknik Negeri Jember (Polije) Rumah Inspirasi KPJT Manut, program pengabdian masyarakat desa mitra atau PPDM.
Ketua KPJT Manut Moh Imam Agus Syaichu manut menunjukan lokasi budi daya jamur yang tak jauh dari rumahnya. Dalam sehari, setidaknya bisa menghasilkan dua kilogram jamur tiram. Namun, bila ditotal, semua anggota KPJT Manut bisa capai 40 kilogram dalam sehari. “Kalau semua anggota kira-kira total produksi per hari 40 kilogram, karena anggota kami yang melakukan budi daya jamur tiram ada 20 anggota,” tuturnya.
Menariknya, petani jamur tiram KPJT Manut dilarang menjual jamur tiram ke pengepul. “Anggota kami larang jual ke pengepul karena harganya Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan yang jamur yang jelek atau apkir kami beli Rp 12 ribu. Lebih mahal mana coba,” tuturnya.
Agus mendorong jamur tiram produksi anggotanya dijual ke pedagang mlijo terlebih dahulu, karena harganya bisa naik hingga Rp 14 ribu per kilogram. Selain itu, bersama-sama membangun perekonomian masyarakat kecil. “Anggota kami tidak boleh dari orang berada. Tapi dari orang biasa agar perekonomiannya meningkat,” jelasnya.
Dia mengaku, banyak anggotanya yang bergerak di bidang budi daya jamur tiram juga merupakan buruh tani, buruh pabrik, dan lainnya. Sehingga, ada potensi perkembangan jamur tiramnya kurang baik untuk dijual di pasaran. Inilah yang dia tampung.
“Kalau ke pengepul jamur kurang bagus itu jadi jamur apkir, dibuang begitu saja,” jelasnya. Bahkan, jamur yang tidak laku bisa diretur kembali dan dibeli oleh KPJT Manut. “Jamur kalau sudah nggak laku hari ini, dijual besok tambah tidak laku lagi. Karena ada jamur yang baru petik, sebab jamur itu produksinya setiap hari,” tuturnya.
Mampu tampung jamur tiram tak laku hingga tampung jamur apkir, tidak lain karena di KPJT Manut terdapat beragam olahan produk pangan dari jamur. “Jamur-jamur yang nggak laku dan apkir bisa dibuat tepung jamur, penyedap jamur, dan lainnya,” jelasnya.
Agus sudah melakukan budi daya jamur tiram sejak 2018 silam. Produk awal pengolahannya adalah botok jamur. Karena produksinya gampang ditiru dan memiliki nilai ekonomis kecil, maka dirinya membuat beragam bentuk olahan makanan berbasis jamur. “Ada es krim jamur, dimsum jamur, kerupuk jamur, jamur crispy, mi jamur, penyedap jamur, tepung jamur, lumpia jamur, dawet jamur, bakso jamur, lemper jamur, hingga roti jamur,” tuturnya.
Belasan produk olahan makanan dari jamur juga tidak lepas dari binaan Politeknik Negeri Jember (Polije). Tiga tahun membina dan memberikan beragam pelatihan, membuat KPJT Manut menjadi desa binaan jamur.
Dalam manajemen anggota KPJT Manut juga dibagi antara produksi jamur dan produksi olahan makanan jamur. “Petani jamur tidak boleh membuat olahan makanan jamur, begitu juga sebaliknya. Dan setiap olahan makanan jamur dikerjakan oleh satu orang agar tidak sama,” jelasnya.
Kini, ada enam desa yang telah berkembang. Yakni Desa Klakah, Ranu Pakis, Duren, Sumber Wringin, Mlawang, dan Kudus. Bahkan, di masing-masing desa ada klaster-klaster khusus pengembangan produk olahan jamur. Beberapa rumah di Dusun Tambak Boyo pun memiliki banner khusus dalam pembuatan makanan berbasis jamur. Satu rumah khusus es krim jamur, satu rumah nasi jamur, dan lainnya.
Salah satunya Suhartini. Sebelum menjual es krim jamur, dia mengaku produk ini sudah diminati oleh anaknya. “Anak-anak suka, akhirnya dijual ya laku,” jelasnya. Dengan harga cukup murah Rp 1.000, setidaknya 50 cup es krim jamur laku setiap hari.
Sementara, Siti Khoiriyah mengembangkan olahan jamur untuk dijadikan penyedap bumbu dapur. “Bahannya ya jamur dikeringkan, bawang putih dikeringkan, gula, lada, garam. Diblender sampai halus,” tuturnya. Penyedap jamur itu lebih sehat dan praktis dalam pembuatannya. Tentu saja lebih sehat sebagai pengganti MSG.
Sementara itu, Ketua PPDM Polije Hendra Yufit Riskiawan mengatakan, pendampingan di desa binaan melalui KPJT Makmur itu menangani tiga hal. Yaitu dari sisi produksi, pengolahan makanan, dan manajemen.
Sisi produksi adalah upaya meningkatkan produksi jamur tiram itu sendiri. Sementara, pengolahan makanan, yakni bagaimana jamur tiram yang tidak laku pasar bisa ditampung di rumah inspirasi untuk dijadikan bahan baku produk pangan. Sedangkan manajemen, dilakukan seperti manajemen pencatatan, keuangan, produksi, pemasaran, branding, hingga memanfaatkan teknologi digital, termasuk dalam pembuatan website, hingga jejaring media sosial.
“Jamur tiram itu bukan hal yang baru di masyarakat. Tapi kendala petani jamur tiram itu saat jamurnya tidak laku. Dijual lagi tidak bisa, karena akan jamur segar keesokan harinya,” jelasnya.
Desa binaan jamur tiram di Desa Klakah oleh Polije juga menyediakan jaringan internet gratis yang bekerja sama dengan icon PLN. Lewat jaringan internet gratis, menjadi solusi di tengah pandemi Covid-19. Siswa yang belajar daring bisa memanfaatkan dan tidak bingung kuota internet lagi.
Desa jamur tiram, kemarin (18/8), juga didatangi ibu-ibu PKK Lumajang, termasuk Ibu Kapolres Lumajang. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang Musfarina Thoriq mengusulkan agar desa jamur tiram tersebut dijadikan destinasi eduwisata. “Jadi, pembeli bisa diajak memetik jamur sendiri, hingga menikmati olahan makanan jamur tiram,” tuturnya.
Konsumen saat ke sini juga tidak perlu menunggu ada pesanan, baru membuat beragam bentuk olahan jamur tiram. Seandainya ada hari-hari khusus, tentunya masyarakat akan paham ke desa jamur tiram Klakah akan mendapatkan eduwisata petik jamur tiram dan beragam olahan makanan jamur tiram. Dia berharap kepada Polije, untuk terus melakukan penguatan dan terus membuat inovasi jamur. Editor : Safitri