Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Awalnya Coba-Coba, Kini Bisa Pasok hingga Afrika

Safitri • Senin, 10 Agustus 2020 | 22:03 WIB
INOVATIF: Ahmad Mursid, petani asal Desa Karangharjo, Silo, yang membuat pupuk secara mandiri. Pupuk hasil olahannya diberi nama Bionaga 45.
INOVATIF: Ahmad Mursid, petani asal Desa Karangharjo, Silo, yang membuat pupuk secara mandiri. Pupuk hasil olahannya diberi nama Bionaga 45.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Di rumahnya yang sederhana di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Mursid biasanya meracik sendiri ramuan pupuk yang dia kreasikan. Dia tak memiliki karyawan tetap. Tapi jika ada orderan dalam skala besar, Mursid tak segan-segan mengajak rekan dan tetangganya untuk membantu menyiapkannya.

Tumpukan botol berukuran sedang juga biasa terlihat dan tertata rapi di etalase rumah Ahmad Mursid. “Ini yang bisa dibeli petani setiap saat. Tapi kalau ada orderan dalam skala besar, saya siapkan dengan meminta bantuan temen-temen sekitar rumah,” kata Mursid.

Meskipun hanya alumni pesantren, kreativitas ayah lima anak itu layak diapresiasi. Di tengah kondisi kelangkaan pupuk saat ini, dia berhasil menciptakan produk olahan pupuk mandiri.

Kisah itu berawal pada 2006 silam. Saat itu, Mursid kerap melihat sekawanan petani di desanya kerap kesulitan mendapat pupuk. Kali itu, kelangkaan pupuk sama parahnya dengan saat ini.

Rupanya kegelisahan itu memancing dirinya coba-coba mengkreasikan pupuk kandang untuk menjawab kelangkaan pupuk tersebut. “Dulu awal nyoba dengan pupuk kandang. Saya campur dengan olahan ini itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Temuannya awalnya itu tidak langsung berjalan mulus. Namun, Mursid tak lantas menyerah. Dia beralih dengan percobaan lain. Dirinya mulai menggabungkan bahan-bahan yang biasa ditemui sehari-hari untuk mulai dicampurkan ke pupuk temuannya. Seperti kurma, madu, telur, tepung kerang, dan tepung ikan. “Pupuk kandang itu mulai saya tinggalkan. Setelah 2006, berlanjut pada 2010 hingga 2016 lalu saya lanjutkan coba-coba itu,” ungkapnya.

Sejak awal percobaan, Mursid selalu mengujikan hasil olahannya itu pada tanamannya sendiri. Puncaknya pada akhir 2016, Universitas 17 Agustus Banyuwangi melirik uji coba yang dikembangkan Mursid. Temuan itu pun diusulkan oleh Untag Banyuwangi guna mendapat pengujian laboratorium dan reward dari Kemenpan pada awal 2017 lalu. Hasilnya cukup menggembirakan.

“Saya bersama temen-temen Untag Banyuwangi itu awalnya menguji coba produk tersebut ke tanaman buah naga. Hasilnya ada perkembangan tanaman itu. Lalu diajukan ke Kementan pusat,” ujarya.

Puncaknya, dia sempat diundang langsung oleh Ristekdikti dalam event Hari Kebangkitan Teknologi 2017 lalu di Makasar. Mursid mendapatkan penghargaan langsung dari kementerian serta diberikan izin produksi dan izin edar hingga hari ini.

Sejak awal percobaannya hingga hari ini, Mursid sudah beberapa kali mengembangkan produknya. Dari yang awalnya diberi nama Azensa, hingga Bionaga 45 yang baru ini. Menurut dia, nama itu diambil dari nama tempat pengujian pupuk, sedangkan nama naga, adalah tanaman perdana yang diujikan. Lalu label “45” merupakan kerja sama dia dengan Untag Banyuwangi yang telah membantu sinergi dengan kementerian.

Dari segi khasiat, kata Mursid, pupuk tersebut sangat pas untuk segala jenis tanaman. Mulai dari tanaman pangan hingga perkebunan. Bahkan dirinya mengklaim, juga bisa dikonsumsi oleh orang secara langsung. “Karena bahannya memang semua berasal dari beberapa jenis sembako dan tumbuhan hayati,” tambah pria berusia 52 tahun tersebut.

Selama masa uji coba hingga hari ini, tak jarang pula jatuh bangun dia alami selama mengembangkan temuan tersebut. Namun dirinya tetap optimistis bahwa temuannya bisa bertahan meskipun hanya memproduksi skala mandiri dan tanpa campur tangan instansi atau pemerintah mana pun.

Untuk wilayah produksi, sangat disayangkan di Jember hanya dinikmati oleh segelintir orang. Mursid menyebut, pupuk miliknya sepi peminat di daerahnya sendiri, karena memang tidak ada yang mengetahui khasiat dan branding produknya.

Namun Mursid masih percaya diri. Sebab, meskipun tidak laku di daerah, dia sukses menembus pasar luar kota. Seperti Nusa Tenggara Barat, Riau, Sulawesi, Jambi, dan daerah lainnya. “Meskipun tidak tiap hari, tapi tiap minggu Alhamdulillah mesti ada orderan. Bahkan, langganan saya sudah kirim ke Afrika, terakhir kemarin mengirim empat ton,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Jember #Pertanian