Protes warga hingga ricuh ini terjadi sekitar pukul 14.15. Warga asal Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, tidak terima lantaran korban berinisial KD (51), diduga meninggal karena terjangkit wabah korona. Saat di RSBS, warga muntab dan memaksa masuk ke ruang Instalasi Gawat Darutat (IGD) hingga ada yang nekat melompat pagar. Keluarga korban banyak yang histeris dan berteriak agar jenazah korban segera dibawa pulang.
Kondisi yang semakin ricuh kontan membuat polisi serta satpam rumah sakit pontang-panting. Sejumlah warga pun akhirnya merangsek masuk dan mencari jenazah korban. “Kalau tidak boleh, kami tetap memaksa untuk dibawa pulang. Dia hanya asam lambung, buka karena korona,” teriak salah seorang warga.
Menurut putra korban, Jamal, dia dan keluarganya berharap agar almarhum ibunya dimakamkan seperti umat Islam pada umumnya. Yakni dikafani dan jasadnya menyentuh tanah. Akan tetapi, hal itu tidak diperbolehkan oleh rumah sakit. “Keyakinan kami, jasad harus menyentuh tanah, bukan pakai peti,” ucapnya.
Sepupu KD, Aan Anshori mengungkap, penyebab mereka marah karena korban diduga oleh rumah sakit sebagai pasien yang diduga terpapar korona. Begitu meninggal, keluarga sempat menyampaikan keinginannya dan menolak pemakaman korban menggunakan protokol Covid-19, yakni dengan peti mati.
“Cara itu tidak sesuai syariat Islam. Kami akan memandikan dan menyalati di sini. Kami minta saat diliang lahat tidak pakai peti, tetapi tidak boleh,” jelas Aan di RSBS.
Pihak keluarga dan puluhan warga Gugut sudah bersedia mematuhi penanganan jenazah sesuai protokol Covid-19. Kesediaan itu tentu apabila korban benar-benar positif korona. Sementara, apakah korban positif korona atau tidak, belum ada kepastian hingga berita ini ditulis. “Riwayat penyakitnya hanya asam lambung. Rapid test juga nonreaktif,” timpal keluarga korban yang lain.
Menurut Aan, korban sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Kaliwates. Selanjutnya, tiga hari yang lalu dirujuk ke RSBS. Rencananya, korban akan dioperasi kemarin, akan tetapi meninggal sebelum dioperasi. Pihak keluarga pun ingin agar jenazah korban dibawa pulang dan dimakamkan tanpa menggunakan peti.
Atas protes warga Gugut ini, RSBS belum memberikan keterangan resmi apakah korban berinisial KD meninggal karena positif korona atau tidak. RSBS juga belum memberi keterangan apakah korban yang diduga positif korona masuk kategori orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pantauan (ODP), atau pasien dalam pengawasan (PDP).
Warga yang mengamuk tersebut kemudian tenang setelah polisi melakukan pendekatan persuasif. Warga yang sempat marah dan menangis histeris itu pun membubarkan diri dari RSBS begitu jenazah korban dibawa keluar dan diantar ke rumah duka menggunakan ambulans. Hingga bubar, belum ada tenaga medis yang memberikan keterangan. (nur/c2/hdi)
Warga Kaliwates juga Sempat Ricuh
SEMENTARA protes di RSBS juga sempat terjadi beberapa jam sebelum kericuhan warga Gugut, Rambipuji. Keluarga Ahmad Said Hidayad, 38, di Jalan Gajah Mada, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates memprotes keras kematian almarhum berinisial RS yang juga diduga terpapar korona.
Ahmad Said dan keluarganya juga sempat datang ramai-ramai ke RSBS. Mereka meminta kepastian meninggalnya korban apakah benar-benar karena positif korona atau sebaliknya. “Bapak saya tidak sampai sehari di rumah sakit. Dokter bilang almarhum terindikasi Covid-19”, kata Said.
Dikatakan, Minggu (2/8) pagi yang lalu, orang tuanya sempat dipindah ke ruang ICU. Kemudian dipindah ke isolasi. Dari situ, dokter RSBS menurut Said menginformasikan hasil rontgen terindikasi mengarah pada covid-19. “Sebelum meninggal sempat di-swab. Tetapi hasilnya masih belum ada,” tegasnya.
Datangnya Said dan keluarganya ke RSBS itu untuk memastikan meninggalnya korban apakah karena positif korona atau tidak. Nah, simpang siurnya penyebab meninggalnya RS membuat Said dan keluarganya tidak terima. Keributan pun tak terelakkan di RSBS.
Said menegaskan, tidak terima karena hasil swab yang dijanjikan tiga hari ternyata meleset. “Pada waktu bapak saya di ICU dijanjikan 3 hari. Tetapi sekarang bahasanya satu minggu, sepuluh hari, bahkan satu dua bulan lagi. Apa-apaan ini,” jelasnya.
Sebagai seorang anak, dia pun kecewa karena orang tuanya telah ‘tervonis korona sebelum ada bukti’. Dia dan keluarganya pun akan membongkar makam bapaknya jika tidak ada kepastian dari RSBS.
“Saya yakin bapak saya tidak kena korona. Kalau sampai nanti malam (pukul 00.00, Red) tidak ada kepastian, akan saya bongkar dan saya makamkan sesuai syariat Islam,” papar Said, yang kemudian menyebut almarhum orang tuanya memiliki riwayat sakit jantung dan infeksi di kaki dan sudah lima kali berobat terkait riwayat penyakitnya itu.
Sementara itu Kepala Bagian Pembiayaan Kesehatan dan Stok Medis RSBS, dr Maria Ulfa, menjelaskan, pasien RS memiliki keluhan sesak napas. Pada saat ditangani medis, pasien meninggal. Sesuai prosedur, RSBS melakukan pemulasaran jenazah secara infeksius. “Dari hasil radiologi menunjukkan pneumonia bilateral,” ucapnya.
Maria menyebut, untuk pasien RS pihaknya belum mendapatkan hasil swab seperti yang diminta oleh keluarga pasien. “Sampelnya itu kita kirim ke lab luar. Sebenarnya secara real time bisa mengetahui hasilnya. Tapi, karena banyak yang diperiksa, bisa empat hari bahkan lebih dari dua minggu baru bisa diketahui,” paparnya.
Hingga berita ini ditulis, hasil swab kedua korban yang diprotes oleh keluarganya masih belum keluar. Artinya, keduanya masih diduga terpapar korona. Selama gejolak ini terjadi, petugas keamanan dari Polsek Kaliwates maupun dari Polres Jember terus intensif melakukan pengamanan.
Sekadar diketahui, penanganan orang yang masuk kategori ODP dan PDP memang dilakukan sesuai protocol covid. Akan tetapi, dengan terjadinya kasus di RSBS terjadi hingga membuat keluarga bergejolak, patut menjadi pelajaran. Kiranya, perlu ada terobosan baru tentang sistem penanganan covid, sehingga orang yang belum positif korona tidak ‘tervonis’ korona khususnya di tengah opini masyarakat. Editor : Safitri