Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember Hendro Handoko kepada Jawa Pos Radar Jember mengakui, beberapa petani tembakau di Jember sudah kesal tidak ada kepastian dari pemerintah kapan alokasi tambahan pupuk subsidi tersebut dikucurkan. Sebab, sekarang petani tembakau sangat membutuhkan pupuk. “Musim tanam mulai Mei Juni, ada juga awal Juli. Sehingga sekarang waktunya pupuk,” terangnya.
Alokasi pupuk subsidi hampir terserap seratus persen, bahkan beberapa kecamatan juga tidak bisa menyalurkan pupuk subsidi akibat alokasi pupuk subsidi terserap semua. Maka dari itu, menurut Hendro, tanaman tembakau di Jember tersebut rentan terjadi penurunan kualitas. Sebab, hanya memakai sangat sedikit pupuk.
“Jadi, teman-teman petani tembakau akhirnya beli pupuk nonsubsidi. Tapi pemakaiannya sedikit sekali,” jelasnya. Pengurangan pemakaian pupuk di tanaman tembakau hingga 80 persen.
Nasib petani tembakau juga ditambah dengan ketidakpastian harga tembakau. “Harga tembakau itu bisa diketahui pada saat panen tembakau nanti,” terangnya. Sehingga, kata dia, petani tembakau masalahnya tidak hanya soal pupuk, tapi juga rentannya penurunan kualitas akibat pupuk kurang, juga persoalan harga.
Dia mencontohkan, harga tembakau tahun kemarin mencapai Rp 33 ribu per kilogram. Itu pun untuk petani tembakau yang sudah bermitra dengan gudang. “Harga kemitraan yang paling bagus, grade A itu Rp 44 ribu. Tapi pasarannya itu Rp 33 ribu,” jelasnya. Sementara itu, untuk harga tembakau dari petani konvensional tidak bermitra lebih jatuh lagi. “Harga yang tidak bermitra tahun kemarin di kisaran Rp 25 ribu per kilogram,” tambahnya.
Padahal, persentase antara petani tembakau bermitra dengan tidak itu lebih banyak yang tidak bermitra. “Perbandingannya itu 75 persen dengan 25 persen. Lebih banyak yang tidak bermitra,” tuturnya.
Sementara itu, Asisten Account Executive PT Pupuk Kaltim di Jember, Nursalim mengakui, pada saat seperti ini, petani tembakau yang terpukul. Sebab, untuk petani tanaman pangan padi sudah masa panen, sehingga untuk kebutuhan pupuk cenderung turun. “Yang susah sekarang tembakau dan jagung. Karena sekarang musim tanam tembakau dan jagung,” pungkasnya. Editor : Safitri