Tidak ada garis lapangan khusus seperti arena bulu tangkis pada umumnya. Hanya ada dua garis di lapangan ala warga itu. Terbuat dari tali tampar, garis tersebut hanya dipakai untuk pembatas apakah bola keluar atau tidak. Tak hanya itu, tiang net juga dibuat semi permanen dari besi hollow bekas.
Jika kebanyakan olahraga tepok bulu di kampung atau di perumahan kerap dimainkan oleh kaum adam alias bapak-bapak, di sana justru dimainkan oleh kaum hawa. Ibu-ibu berkostum rumahan tampak bersemangat menggelar laga bulu tangkis ala-ala. Jeritan khas pun kian meramaikan aksi tersebut. Tak sedikit dari ibu-ibu ini yang saat bermain diganggu anak hingga cucunya yang tiba-tiba muncul di lapangan bulu tangkis dadakan tersebut.
Salah satunya Feti Marini, yang tengah menunggu gilirannya bermain. Dia pun tak kuasa menahan tawa melihat tingkah ibu-ibu lainnya. Ya, permainan bulu tangkis ala emak-emak tersebut membuat waktu sore Feti semakin semarak, tidak seperti sebelumnya.
Wanita berusia 33 tahun itu mengatakan, olahraga bulu tangkis ala kadarnya tersebut sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Dia mengaku, sejak pandemi korona berlangsung, banyak warga memilih berdiam diri di rumah.
Namun, di era kenormalan baru, sejumlah warga mulai keluar dan mengadakan kegiatan-kegiatan positif. Salah satunya kegiatan yang meningkatkan imun tubuh dengan berolahraga. “Daripada setiap sore nggosip, mending olahraga,” tuturnya.
Bulu tangkis tersebut awalnya dilakukan oleh anak-anak yang tinggal di sekitar sana. Nah, dari sana ibu-ibu mulai pegang raket untuk bermain dengan anaknya. Lambat laun mulai muncul pertandingan antaribu-ibu. “Agar lebih semangat, akhirnya diberi net,” lanjut Feti.
Sementara itu, Raberti, warga lainnya, juga berpendapat, era kenormalan baru sejatinya bukan kehidupan normal seperti sebelum pandemi korona. Karena itu, alangkah baiknya olahraga tidak berada di kerumunan banyak orang dan lebih baik di sekitar rumah saja. “Karena di perumahan tidak semua memiliki halaman luas, gang menjadi alternatif sarana olahraga bersama,” ujarnya.
Imam, warga setempat, mengaku, ide membuat lapangan bulu tangkis sederhana tersebut dilatarbelakangi dua hal. Pertama, sejak pandemi korona merebak, akses masuk ke perumahan diperketat. “Gang di sini portalnya ditutup, jadi jarang orang lewat. Sehingga dimanfaatkan untuk bulu tangkis saja,” jelasnya.
Selain itu, sejak korona dan banyak aktivitas kerja serta sekolah yang dilakukan dari rumah, menurut dia, perlu beberapa inovasi agar masyarakat tidak bosan di rumah saja. Imam sebagai kepala rumah tangga juga tidak ingin anak dan istrinya stres di tengah pandemi korona. Maka dari itu, dia berinisiatif membeli dua net bulu tangkis senilai Rp 50 ribu. Serta membuat tiangnya dari besi bekas.
Hal ini tentu menambah semangat para ibu untuk bermain bulu tangkis. “Daripada ngerumpi, daripada olahraga di luar, mending olahraga di depan rumah, juga makin mengakrabkan antartetangga,” pungkasnya. Editor : Safitri