Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Berisiko Gagal Ginjal

Safitri • Senin, 6 Juli 2020 | 21:39 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Hampir 20 tahun, Mustholifah terserang penyakit persendian. Ketika kambuh, seluruh tulang di tubuhnya terasa ngilu. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain meminum obat maupun jamu yang beredar di pasaran. Selain harganya murah, perempuan kelahiran 1952 itu juga mengaku mudah mendapatkan. Bahkan, di toko kelontong dekat rumahnya sudah tersedia.

"Saya sudah mengonsumsi bermacam-macam untuk meredakan sakit ini. Mulai pil kecetit, jamu racikan, maupun pil pegel linu. Sekali minum biasanya langsung cespleng,” katanya.

Awalnya, warga Dusun Krajan, Desa Ambulu, Kecamatan Ambulu ini, tak menyadari jika ada efek samping yang membahayakan tubuhnya. Namun seiring berjalannya waktu, Mustholifah mulai terasa, kenapa setiap kali mengonsumsi obat atau jamu tersebut, dirinya seperti kecanduan. Jika telat mengonsumsi, tubuhnya justru terasa sakit semua. “Jadi, kalau ndak minum pil atau jamu ndak bisa reda sakitnya," ungkapnya.

Kecurigaan Mustholifah semakin kuat, karena setiap jamu yang dia minum cara kerjanya nyaris sama dengan pil kecetit yang dia konsumsi. Tak menunggu waktu lama, rasa sakit yang diderita langsung sirna. “Saya malah curiga ada kandungan yang kurang baik. Jadi, saya ndak berani minum lagi. Karena, biasanya jamu itu sembuhnya kan bertahap. Tidak langsungan," imbuhnya.

Hingga akhirnya, ibu rumah tangga ini memilih menghentikan konsumsi obat-obatan maupun jamu tersebut. Terlebih saat indera pendengarannya mulai menurun sejak setahun lalu. Kini, dia berganti ke terapi tradisional yang lain bila penyakit persendiannya itu kambuh lagi. “Kalau sakit, saya memilih pijat. Tapi, kalau kelewatan sakitnya terpaksa minum jamu lagi," ujarnya.

Paenah, warga yang lain, juga mengaku serupa. Bahkan, warga Dusun Krajan, Desa Ambulu ini, sampai kebal dengan obat maupun jamu yang dikonsumsi. Sebab, beberapa kali dia meminum, penyakit persendiannya tetap tidak bisa sembuh. "Saya baru bisa berjalan setelah sakit selama 2,5 bulan," ungkap penjual kopi ini, menceritakan riwayat penyakitnya.

Perempuan 64 tahun itu kemudian memiliki cara lain untuk menghilangkan sakitnya. Kini, dia berhenti mengonsumsi obat maupun jamu pereda nyeri itu. Dia memilih mengurangi makanan berminyak untuk menjaga kesehatan tubuhnya. "Sekarang ini, saya hanya makan tahu, tempe, dan sayur bening. Alhamdulillah, bisa kembali berjalan dan berjualan lagi," akunya.

Apa yang dialami dua warga Ambulu itu merupakan fenomena gunung es. Di beberapa desa maupun kecamatan yang lain, juga banyak warga yang mengonsumsi jenis jamu serupa. Kebanyakan, mereka memilih mengonsumsi jamu instan itu karena efeknya yang bisa langsung dirasakan.

Jawa Pos Radar Jember, mengambil dua sampel jamu pegal linu tersebut. Ada dua jenis yang dipilih. Jamu instan cair kemasan, serta jamu seduhan yang biasanya dijual di toko-toko. Sampel jamu ini kemudian dibawa ke laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Jember untuk diteliti. Hasilnya, dikombinasikan dengan hasil penelitian serupa yang sudah dilakukan oleh fakultas farmasi sebelumnya. Ternyata, ada kandungan bahan sintetis yang berasal dari obat-obatan kimia.

“Bukan indikasi lagi jamu pegal linu mengandung beberapa obat kimia atau sintetis. Kami pernah meneliti itu,” ucap Prof Bambang Kuswandi kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurutnya, banyak jamu-jamu pegal linu abal-abal yang beredar di pasaran. Biasanya mengandung dexamethasone. “Tapi, kalau merek jamu tradisional yang terkenal dan terdaftar di BPOM tidak ada kandungan kimia seperti dexamethasone,” jelasnya.

Jamu pegal linu ini, lantaran nomor registrasi BPOM yang tertera hanya tempelan saja. Artinya, tidak benar-benar terdaftar dan hanya dipasang sekenanya untuk mengelabui konsumen. “Kalau mau ngecek bisa. Coba saja cek nomor BPOM-nya,” jelasnya.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh dosen bersama mahasiswa Farmasi Unej menunjukkan, dari tujuh sampel yang diteliti ada lima jamu pegal linu di wilayah Jember yang mengandung dexamethasone. Selain dexamethasone juga ada prednisone, antalgin, dan asam mefenamat.

Sementara, dua sampel jamu yang dibawa Jawa Pos Radar Jember, dia menjelaskan, memang negatif kandungan dexamethasone saat uji lab. Dua metode yang digunakan untuk meneliti juga menyatakan hal serupa. “Kami pakai spektro, ternyata hasilnya negatif. Coba pakai KLT juga negatif. Baik metode UV/VIS spectrophotometri maupun KLT tidak menunjukkan adanya dexamethasone,” jelasnya.

Hanya saja, negatifnya uji sampel tersebut bukan murni tak ada kandungan dexamethasone di dalamnya. Tapi, bisa jadi karena sampel yang dibawa sudah berbentuk cair, bukan bubuk. Sebab, kata dia, dalam penelitian sebelumnya sampel jamu pegal linu berbentuk serbuk. “Hasilnya negatif bisa jadi karena sampelnya berbentuk cairan,” paparnya.

Kendati begitu, Prof Bambang mewanti-wanti agar konsumen lebih jeli bila mengonsumsi jamu yang mengandung obat kortikosteroid seperti prednison maupun dexamethasone. Juga jamu yang bercampur dengan obat pereda nyeri semacam antalgin dan asam mefenamat. Meskipun, dia menyebut, antalgin dan asam mefenamat relatif aman. Karena efek sampingnya tidak begitu dahsyat seperti dexamethasone atau prednisone. “Tapi tetap harus dilihat dosis dan indikasinya,” pesannya.

Lalu, mengapa jamu yang diuji paling banyak memakai dexamethasone? Prof Bambang menjelaskan, lantaran dexamethasone harganya murah, mudah didapat, dan khasiatnya langsung terasa. “Kalau jamu yang benar dan tidak ada bahan sistesis obat-obatan reaksinya lambat. Kalau langsung cespleng perlu dicurigai,” katanya.

Harga dexamethasone di apotek satu lembarnya juga murah sekitar Rp 3.000 yang berisi 10 tablet. Menurutnya, apa pun obat jika dikonsumsi itu sesuai indikasi dan dosis, maka hasilnya juga bagus. Tapi jika tidak sesuai indikasi, apalagi dosis, akan berdampak buruk ke tubuh.

Apalagi, untuk menghentikan penggunaan dexamethasone tidak bisa mendadak. Dosisnya harus diturunkan pelan-pelan. Inilah yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Karena penghentian dexamethasone secara tiba-tiba akan berdampak secara fisik. Efek samping yang paling terlihat adalah wajah kelihatan bundar atau moon face. Pipinya tampak lebih gemuk dan empuk. Selain itu, juga glaukoma, darah tinggi, perubahan hormon, hingga pemicu diabetes. Risiko yang lebih fatal, bisa sampai gagal ginjal.

Penyalahgunaan dexamethasone ternyata tidak hanya dipakai untuk jamu pegal linu saja. Ada juga yang dipakai untuk obat yang lain. Widya, salah seorang pegawai apotek di Jalan Mastrip, mengaku, para pembeli biasanya menggunakan dexamethasone untuk mengatasi asam urat dan sebagai pereda nyeri. Bahkan, ada juga yang mengonsumsinya sebagai obat penggemuk badan. “Memang minum obat ini orang terlihat gemuk, karena wajahnya bulat. Tapi itu efek samping dari obat. Bukan kegunaan utama,” paparnya.

Widya mengetahui dexamethasone dipakai untuk penggemuk badan, karena ada pembeli yang langsung mengatakan hal tersebut. “Padahal gemuknya hanya di pipi saja,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Herbal #Jember #Headline