Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ingat, Jangan Ada Galian Lagi

Safitri • Jumat, 3 Juli 2020 | 20:34 WIB
HARUS DILINDUNGI: Tim arkeologi dari BPCB Jatim mengukur dan mencatat temuan struktur batu bata kuno di areal persawahan Desa/Kecamatan Ledokombo, kemarin (2/7). Guna penelitian lebih lanjut, BPCB Jatim menghendaki temuan baru tersebut dilindungi bersama,
HARUS DILINDUNGI: Tim arkeologi dari BPCB Jatim mengukur dan mencatat temuan struktur batu bata kuno di areal persawahan Desa/Kecamatan Ledokombo, kemarin (2/7). Guna penelitian lebih lanjut, BPCB Jatim menghendaki temuan baru tersebut dilindungi bersama,
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Temuan struktur batu bata kuno yang terpendam di areal persawahan Desa/Kecamatan Ledokombo mulai dikaji awal oleh tim arkeologi Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, kemarin (2/7). Walau belum menyebut apa temuan tersebut, tapi muncul gambaran berupa beberapa lapisan pasir vulkanik yang terpendam dalam tanah dekat struktur batu bata kuno itu.

Sayangnya, areal persawahan tersebut pun kini telah berubah banyak. Di atas galian struktur batu bata kuno itu dipasang tenda cukup besar. Galian struktur batu bata tersebut pun mulai membesar, tidak seperti awal kali ditemukan. Faisol Junaidi, salah satu perangkat Desa Ledokombo yang pertama kali menemukan struktur batu bata kuno tersebut, mengatakan, itu digali oleh pemuda setempat agar lebih menarik warga saja. “Ini baru digali sedikit oleh pemuda sini, agar menarik perhatian warga,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Muhammad Ichwan, salah satu tim arkeolog BPCB Jatim, menegaskan agar setelah ini tidak ada galian lagi. Dia mengatakan, temuan ini diduga kuat adalah cagar budaya, yaitu struktur batu bata kuno. “Kita amankan, kita jaga bersama. Karena ada proses kegiatan selanjutnya,” paparnya.

Ichwan mengatakan, dari hasil kajian pertama ditemukan ada dua lubang galian struktur batu bata kuno. Galian pertama berlokasi di sisi timur, dan merupakan galian yang paling besar jarak antara permukaan tanah dengan batu bata sekitar 40 sentimeter. Sementara di lokasi galian lainnya ditemukan struktur batu bata yang sama, tapi kedalamannya lebih dalam dari galian pertama. “Dilihat dari strukturnya, batu bata ini tegak lurus,” jelasnya.

Tim arkeolog juga mendata lapisan tanah yang berada di dekat galian struktur batu bata kuno tersebut. Pantauan Jawa Pos Radar Jember, tanah galian itu memang memiliki beberapa lapisan. Tidak hanya tanah liat saja, tapi juga beberapa lapis tanah pasir.

Ichwan beserta rekannya pun mulai meninjau sumber mata air yang lokasinya tak jauh dari lokasi temuan struktur batu bata tersebut.

Sementara itu,Yohanes Setyo Hadi, salah satu pegiat sejarah Jember, mengatakan, sumber mata air perlu dilihat dan dipantau karena mungkin saja ada hubungan dengan temuan struktur batu bata tersebut. Sebab, lokasi permukiman orang zaman dulu dekat sumber mata air.

Dia menambahkan, Gunung Raung yang berada di kawasan tersebut sempat meletus sebanyak tiga kali. Pertama pada 1586 terjadi ledakan dahsyat, dankedua pada 1597. Lalu, pada 1638 kembali terjadi letusan yang diikuti dengan banjir besar dari aliran lahar yang melanda sekitar daerah tersebut. “Bisa jadi letusan itu menenggelamkan permukiman,” tutur dia.

Sementara itu, Koordinator Juru Pelihara (Jupel) BPCB Jatim di Jember Djoko Suhardjitomengatakan, dilihat dari struktur batu bata, peninggalan itu mirip dengan Candi Deres di Gumukmas dan Situs Beteng di Semboro. “Batu batanya besar dan lebar, ada juga guratan-guratannya. Guratan itu adalah teknik lama untuk saling menempelkan antara batu bata satu dengan lainnya,” jelasnya.

Kades LedokomboIpung Wahyudi mengatakan, kawasan di belakang balai desa tersebut dikenal punya beragam cerita. Sebelum ditemukan struktur batu bata, ada cerita warga yang menemukan patung sapi dan lesung dari batu. “Tapi itu semua hilang dicuri,” jelasnya.

Bahkan, tukang gali kubur di area pemakaman belakang balai desa tersebut kerap kali menemukan pecahan keramik. “Dulu katanya, sering orang-orang itu mencari manik-manik di dekat kuburan,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Jember #Headline #sejarah