Warga yang tinggal di Wirolegiitu mencari ikan hias tidak lain karena keinginan anaknya yang minta dibelikan ikan. “Awalnya saya belikan. Terus anaknya minta lagi,” tuturnya.
Membeli ikan menjadi pilihannya untuk mengisi kegiatan di rumah. Ya, sejak kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah saja, sebagai orang tua Wiwik harus bisa memberikan kegiatan yang menarik di rumah agar tidak bosan. “Awalnya di rumah ya senang, anak juga senang. Tapi lama-kelamaan anak juga bosan,” jelasnya.
Dirinya memilih ikan sebagai hewan peliharaan, karena selain harganya murah, perawatannya juga mudah. Tak hanya itu, memelihara ikan menjadi sarana permainan bagi anak agar bisa lebih variatif. “Kebetulan saya punya akuarium mini. Daripada main HP terus, juga tidak baik. Enak main ikan, sekalian mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab memberikan makan ke hewan peliharaan,” jelasnya.
Dia mengaku, sejak korona melanda, putranya ini kerap meminta main di luar, padahal masih belum ada instruksi untuk beraktivitas seperti biasa. Nah, sejak punya hewan peliharaan, anaknya justru betah di rumah dan bisa teralihkan perhatiannya.
Ya, di tengah pandemi korona, banyak pedagang mengalami penurunan omzet, bahkan memilih menutup dagangannya. Namun tak demikian dengan pedagang ikan hias.Alif Haqi, 33, salah satu pedagang ikan hias, mengaku, sejak korona melanda justru dagangannya semakin laku. “Kalau penjual lainnya itu sepi pembeli. Tapi kalau pedagang ikan hias, justru mengalami peningkatan,” terangnya.
Setidaknya peningkatan tersebut mencapai lebih dari 200 persen. Hal ini lantaran banyak kegiatan anak kini dipusatkan di rumah, sehingga banyak orang tua membelikan sarana belajar dan bermain seperti ikan hias. “Alasannya beragam, mengapa beli ikan. Ada karena anaknya tidak bosan di rumah, tidak main HP terus, hingga edukasi anak untuk memelihara hewan,” jelasnya.
Peningkatan penjualan berlipat-lipat ini, tambah dia, tak lantas tanpa kendala. Salah satu kendalanya adalah pasokan ikan hias yang justru mengalami kesulitan. “Ikan yang dijual cepat habis. Tapi tidak seimbang dengan yang masuk,” tuturnya.
Alif menjelaskan, di Jember memang ada peternak ikan hias. Tapi jumlah produksinya tidak bisa mencukupi kebutuhan sejak korona melanda. “Rata-rata dijual sendiri,” jelasnya. Sementara, pasokan dari daerah penghasil ikan hias seperti Blitar dan Tulungagung tersendat, akibat korona.
“Ikan dari penghasil seperti Blitar dan Tulungagung susah keluar sekarang, walau New Normal juga sama saja,” imbuhnya. Alhasil, beberapa jenis ikan di lapak dagangannya habis. Editor : Safitri