Nantinya, bila kondisi benar-benar darurat, cadangan beras ini bakal disalurkan langsung ke masyarakat yang terdampak wabah. Ini sesuai dengan imbauan Kementerian Sosial (Kemensos) agar bantuan pemerintah daerah yang menyalurkan bantuan berasnya berasal dari Bulog. Pemkab disebut juga baru ini mengajukan cadangan beras darurat bencana tersebut. Tahun sebelumnya, pemerintah daerah tak mengajukannya ke Bulog.
Wakil Kepala Bulog Subdivre Jember Makki Febrianto mengatakan, di tengah pandemi korona seperti ini, Pemkab Jember sudah mengajukan bantuan beras kepada Bulog. Pengajuan ini sebagai langkah antisipasi pemerintah daerah di tengah ancaman wabah, sehingga tak sampai terjadi kelangkaan bahan pangan di pasaran. “Jumlah yang diajukan sebanyak 99 ton. Jatah itu adalah untuk kedaruratan bencana,” katanya.
Ketersediaan bahan pangan memang menjadi salah satu yang dikhawatirkan oleh publik saat pandemi korona berlangsung. Masyarakat khawatir bila kondisi darurat korona ini tak segera berakhir, bakal terjadi kelangkaan akibat panic buying hingga ada yang main borong bahan pangan di pasaran. Namun terkait hal itu, Bulog Jember memastikan, kelangkaan bahan pangan, utamanya beras, tidak akan terjadi. “Hingga kini masih aman. Stok beras di kami ada 47 ribu ton,” tuturnya.
Menurut dia, jika dihitung konsumsi normal, maka jumlah 47 ribu ton tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Jember paling tidak sampai akhir 2020 ini. Apalagi, kata dia, jumlah itu masih belum secara keseluruhan jika dihitung total dengan cadangan beras yang ada di petani atau gudang penggilingan beras yang dikelola swasta. Terlebih saat ini, petani tengah memasuki masa panen raya padi. “Jember ini daerah lumbung pangan. Jadi tak perlu khawatir,” pesannya.
Makki menjelaskan, sebagai daerah lumbung pangan, produksi beras di Jember selalu surplus setiap tahun. Sehingga, dia mengutarakan, warga Jember tidak perlu ikut panik dengan memborong bahan pangan.
Selama penyerapan gabah di masa panen pertama tahun ini, menurut Makki, petani juga masih tak terpengaruh dengan isu korona. Mereka tetap menjual gabahnya dan tidak disimpan di lumbung. Hanya saja, tambah dia, petani lebih memilih menjual gabahnya ke swasta. Sebab, harga beras sekarang di atas harga eceran tertinggi (HET). Kendati begitu, pihaknya terus memantau perkembangan harga dan panen petani untuk penyerapan beras. “Sekarang harganya tembus Rp 8.300 per kilogram. Sehingga, petani lebih memilih menjual ke swasta,” jelasnya. Editor : Safitri