Menurut penuturan warga setempat, getaran itu muncul saat jembatan dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar atau bermuatan berat. Apalagi, saat kendaraan tersebut hendak menunggu lampu merah yang letaknya persis di sebelah utara jembatan, atau sekitar lima meter dari jembatan. “Dulu-dulunya tidak ada, baru beberapa bulan kemarin ini getaran mulai ramai dibicarakan,” kata Qoyum, 29, warga setempat.
Sebagai informasi, jembatan yang memiliki panjang sekitar 20 meter dengan lebar sekitar tujuh meter itu selama ini sebelumnya tampak baik-baik saja. Saat dilewati oleh kendaraan besar pun, tak ada pengaruh sama sekali. Namun, sejak setahun belakangan, setelah lampu lalu lintas di sisi utara jembatan terpasang, fenomena getaran tersebut mulai muncul.
Jembatan yang berada di Jalan Ambulu itu juga menjadi salah satu jalur alternatif dari Lumajang menuju Jember atau Ambulu hingga ke arah Kabupaten Banyuwangi. Tak heran jika jembatan tersebut kerap dilewati kendaraan-kendaraan besar bermuatan berat ataupun bus antarkota antarprovinsi. Selain itu, juga menjadi akses utama warga Balung yang menghubungkan daerah-daerah sekitarnya. “Waswas saja, takut ambruk atau ada kejadian yang tidak diinginkan,” keluh Qoyum.
Ditambah lagi, intensitas curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini membuat debit air Sungai Bedadung semakin naik. Banyak warga berharap bisa ada perawatan khusus terhadap jembatan tersebut. “Kalau warga hanya bisa berharap baik-baik saja. Syukur-syukur ada perawatan jembatan atau perbaikan khusus,” pungkasnya. Editor : Safitri