Pengguna lebih sering menerobos jalan raya yang padat kendaraan. Ironisnya, jembatan penyeberangan justru lebih sering dipakai untuk memasang atribut reklame. Padahal, di sekitar jembatan penyeberangan itu juga ada lembaga seperti kantor bank dan sekolah.
Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, para siswa yang ingin menyeberang ke sekolah yang ada di sisi selatan jalan justru jarang lewat jembatan tersebut. Mereka juga lebih suka menerobos begitu saja.
Padahal, jalan raya tersebut merupakan jalan satu arah dan dengan arus cepat plus kendaraan padat. ”Seharusnya, pejalan kaki kalau ingin menyeberang lewat JPO itu agar lebih aman. Demikian juga dengan para siswa,” kata Rusdi, 35, tukang becak yang biasa mangkal di sekitar JPO.
Dia mengaku, jarang ada orang yang suka lewat jembatan. ”Anak sekolah juga memilih lewat bawah karena lebih cepat,” ujarnya. Menurut pengamatannya, sebelum dibangun jembatan itu, sudah ada jembatan lain, yakni jembatan Jompo. Kebetulan, jarak jembatan yang lama dengan yang baru hanya sekitar 200 meter.
“Kalau bikin jembatan penyeberangan baru, jaraknya agak jauh dengan jembatan yang sudah ada. Apalagi tangganya dari keramik. Kalau hujan licin, sehingga membuat orang malas naik jembatan yang ada ini,” pungkasnya. Editor : Safitri