Dengan memakai motor listrik itulah yang membuat pergerakan Sasmito senyap tanpa suara. “Enaknya begini motor listrik, bebas suara, bebas asap, dan bebas beli bensin,” katanya.
Dia berangkat dari Tempurejo hingga ke Jenggawah dan memasuki Kota Jember, lalu nanti akan kembali lagi ke kediamannya di Desa Wonoasri, Tempurejo. Total perjalannya kira-kira 140 kilometer. Perjalanan jauh seperti itu baginya sudah biasa, tidak ada takut kehabisan baterai.
Di motor listriknya yang telah dipreteli itu, dirinya juga membawa baterai cadangan. Baterai utama baterai lithium berbasis LTO yang disimpan di jok motornya. Sementara baterai cadangannya adalah baterai lithium biasa seperti baterai HP ataupun power bank yang dirangkai sedemikian rupa dan dibalut kardus aki bekas. “Kardusnya saja merek aki. Tapi dalamnya ya baterai lithium,” tuturnya sembari tertawa.
Agar jarak jelajahnya di jalan raya makin yahud, Sasmito juga menambah daya ampere motor listriknya. Dari awalnya 20 ampere, jadi 40 ampere dan bisa melaju 90 kilometer per jam. Roda bagian belakangnya juga dimodifikasi, memakai ban motor matic and max. “Biar meminimkan selip dan lainnya, ukuran ban juga disesuaikan,” jelasnya.
Nyatanya Sasmito tidak hanya memiliki satu buah motor listrik, tapi tujuh. Dua berbentuk mirip motor, sementara lima lainnya berbentuk sepeda tapi bertenaga listrik. Sepeda lipat biasa yang dipakai anaknya pun juga dibekali dengan baterai lithium. “Dulu sih pernah membuatkan orang sepeda BMX dimodif jadi sepeda listrik,” paparnya.
Tak sekedar itu saja, Sasmito juga merakit mini mobil listrik. Mobil model jeep berdimensi 1 x 2 meter itulah yang saat ini menghiasi teras rumahnya.
Sebelum dikenal sebagai orang yang jago utak-atik kendaraan listrik, pria 36 tahun ini hanyalah tukang servis elektronik biasa saja. “Kalau tentang elektro saya memang suka,” ujarnya. Bertahun-tahun lamanya, dunia elektro seperti bagian dari hidupnya. Bahkan, di rumahnya pun dirinya juga mandiri dalam soal energi. Dengan memakai panel tenaga surya untuk menerangi lampu di rumahnya setiap hari.
Ketertarikan dengan kendaraan listrik berawal ketika ada orang ke rumahnya untuk menyervis sepeda listrik. Karena permohonan seperti itu makin banyak, akhirnya Sasmita tertarik dan membelinya. “Pertama punya ya beli bekas. Punya orang motor listriknya rusak karena habis kecelakaan. Ya saya beli, saya otak-atik ternyata bisa,” jelasnya.
Sasmito juga menghitung biaya plus minus kendaraan listrik. “Lebih hemat, jauh sekali,” tuturnya. Pengguna motor konvensional setidaknya dalam setahun akan mengeluarkan biaya Rp 3,5 juta. “Jika rata-rata per hari keluar uang untuk beli bensin Rp 10 ribu, maka dalam setahun totalnya sekitar Rp 3,5 juta,” jelasnya. Jumlah tersebut, kata dia, masih belum pajak setahun sekali, servis rutin, dan ganti oli.
Sementara untuk motor listrik, lanjut dia, jumlah tersebut bisa digunakan setidaknya hingga tiga tahun untuk ganti baterai. “Memang motor listrik itu secara periode ganti baterai, harganya juga lumayan. Tapi tidak setahun sekali dan per bulan sekali,” paparnya. Sasmita juga menghitung biaya listrik setiap kali charge motor listrik cukup Rp 500 hingga Rp 1.000 saja.
Dan yang tak kalah penting, pemakaian listrik juga menjadi salah satu bentuk mencintai alam. Karena cinta terhadap lingkungan, motor roda dua berbahan bensin miliknya langsung dijual. Sejak mengendarai motor listrik, hal yang paling asyik adalah bebas tilang. “Tidak ada asap, jadi baik bebas emisi. Polisi juga sering tertipu dikira motor mesin. Saat nggak ada knalpotnya, baru sadar itu kendaraan listrik,” pungkasnya. Editor : Safitri