Hal itu sontak mengundang rasa penasaran masyarakat dan warga Balung, khususnya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menduga bahwa renovasi pendapa tersebut kurang melalui pengkajian yang mendalam. Hal itu memaksa pihak pelaksana proyek pembangunan itu harus bongkar ulang bangunan pendapa. Padahal, perenovasian itu baru dilakukan sejak Oktober kemarin. Artinya, baru berumur dua bulanan.
“Itu rencananya akan diganti galvalum dan beberapa kuda-kuda penyangganya,” kata Dira, pekerja dalam perenovasian tersebut. Dia mengatakan, proyek yang dilaksanakan oleh CV Mitra Tunggal itu memang sengaja menurunkan gentingnya, Sabtu kemarin. Hal itu dilakukan untuk mengganti penyangga penahan genting agar semakin kuat. “Karena satu genting itu ukurannya sangat besar dan cukup berat,” ucapnya.
Meski tak sedikit CV atau kontraktor yang menerapkan sistem gaji borongan, namun kata Dira, sekitar 12 pekerja di proyek tersebut dilakukan dengan sistem gaji harian. Sementara, sejak pembangunan yang sudah berlangsung sekitar Oktober, mereka ditargetkan selesai dalam enam bulan ke depan atau pada Maret 2020 mendatang. “Jika tidak selesai, tidak menutup kemungkinan pengerjaan akan dihentikan dan digantikan dengan CV lain,” jelasnya.
Menurutnya, bangunan pendapa itu memang didesain seperti bangunan rumah joglo. Namun biasanya, kata sejumlah pekerja, kuda-kuda atau penyangga minimal terbuat dari kayu balok yang sangat kokoh.
Bahkan, tak sedikit keterangan dari mereka yang terbiasa ikut pegawai borongan mengatakan, untuk kekuatan penahan yang maksimal seharusnya menggunakan cor-coran semen. “Bukan memakai baja ringan seperti galvalum dan lain-lainnya,” tuturnya.
Dia juga membenarkan, hal itu bisa saja terjadi karena beberapa faktor tertentu. Bisa jadi karena kualitas bahan dan materialnya, perencanaannya, pengkajian, dan lain-lain. Bahkan, sejumlah informasi dari pekerja yang lain mengungkapkan, digantinya genting itu bisa terjadi karena minimnya perencanaan proses pengkajian. Mereka meyakini, setiap proyek perlu dilakukan proses tender atau pelelangan, dan bukan dikapling-kapling.
“Tukang sini banyak yang bekerja di proyek Mas. Mereka ikut borongan iya, harian juga iya. Tapi karena kita hanya bekerja, jadi hanya bisa ikut apa kata yang mempekerjakan kita,” timpal Ghufron, seorang pekerja asal Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan. Pria yang juga sebagai instalator listrik itu juga berkeyakinan, para tukang sudah melakukan terbaik dan membangun sesuai material yang disediakan.
Kini, para tukang dan laden masih tengah fokus pemasangan granit di salah satu ruang pelayanan kecamatan. Sementara itu, setelah genting pendapa diturunkan, kemarin, sejumlah tukang masih melepas beberapa bagian galvalum. Bahkan, tak sedikit galvalum bekas kuda-kuda dan reng sudah dalam keadaan rusak dan tidak bisa digunakan kembali. Editor : Safitri