Busro Abadan, salah seorang santri di Pondok Pesantren Al-Qodiry Jember menjelaskan, menjalani Ramadan di pesantren menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebab, kata dia, tak hanya memperbanyak ibadah, tapi waktu menunggu buka juga menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Keramaian saat berburu takjil hingga beraneka macam takjil yang dijajakan, merupakan hiburan tersendiri bagi para santri.
"Selain itu, Ramadan di pesantren juga bisa membuat ibadah kita lebih istiqamah. Sehingga bisa memperbaiki diri. Salah satunya dengan kegiatan riyadhoh,"jelasnya.
Menurut Abadan, riyadhoh yang dilakuakn selama 40 hari bertujuan untuk perbaikan diri melalui perbaikan ibadah. Karena Ramadan menjadi momen bagi santri mengumpulkan pahala. Tak hanya itu, Ramadan di pesantren juga bisa meningkatkan kesadaran sosial dan melatih diri untuk berbagi kepada sesama.
“Momen berbuka dan sahur, serta berbagi takjil menjelang buka puasa juga menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh para santri,” pungkasnya. (*) Editor : Radar Digital