Radar Jember - Di Iran, harga bahan bakar minyak (BBM) berada pada level yang sulit dipercaya oleh warga dunia, yakni hanya sekitar Rp500 per liter.
Angka ini jauh lebih murah dibandingkan harga air mineral kemasan di Indonesia yang rata-rata berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per botol.
Murahnya harga BBM di Iran didorong oleh cadangan minyak mentah yang sangat masif—mencapai peringkat ketiga terbesar di dunia dengan total sekitar 208 miliar barel—serta kebijakan subsidi energi yang sangat agresif dari pemerintah setempat.
Baca Juga: Alarm Merah Energi Nasional: Mengapa Indonesia Harus Gemetar Melihat Selat Hormuz?
Iran juga memegang peranan krusial dalam ekonomi global karena menguasai Selat Hormuz, jalur distribusi yang dilewati oleh sekitar 20 hingga 26 persen total perdagangan minyak dunia.
Menanggapi ancaman militer, otoritas resmi Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras terkait jalur ini.
Dikutip dari Iran State TV pada Selasa (10/03/2026), juru bicara Garda Revolusi menyatakan sikap terkait kondisi di Selat Hormuz ini.
"Iran tidak akan membiarkan 'satu liter minyak pun' diekspor oleh negara-negara yang memusuhi kami dan mitra mereka jika agresi terus berlanjut. Kami memiliki hak sah untuk mengganggu transit perdagangan minyak di Selat Hormuz sebagai balasan atas keterlibatan asing dalam konflik ini," kata Otoritas Resmi IRGC.
Baca Juga: Bahlil Bantah Isu Krisis BBM saat Presiden Prabowo Instruksikan Pembangunan Storage BBM di Sumatra
Kontras dengan Iran, Indonesia menghadapi realitas harga yang jauh lebih tinggi meskipun pemerintah telah menggelontorkan subsidi triliunan rupiah. Perbedaan mendasar terletak pada status ketahanan energi: Iran adalah pengekspor neto minyak dunia, sementara Indonesia saat ini telah menjadi negara pengimpor neto (net importer).
Harga BBM di Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah global dan kurs rupiah, karena kemampuan produksi dalam negeri tidak lagi mencukupi kebutuhan nasional.
Data Kementerian ESDM dan laporan pasar menunjukkan bahwa kebutuhan BBM nasional Indonesia pada tahun 2025/2026 mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak mentah nasional hanya berkisar di angka 580 ribu barel per hari.
Hal ini memaksa Indonesia mengimpor kekurangan sekitar 1 juta barel setiap harinya untuk memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh.
Selain faktor bahan baku, harga di Indonesia lebih tinggi karena adanya komponen pajak seperti PPN (11%) dan PBBKB (5-10%), serta biaya distribusi yang tinggi di negara kepulauan.
Meskipun harga minyak dunia melonjak akibat gejolak di Timur Tengah, Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi (Pertalite dan Biosolar) dalam waktu dekat untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran Idul Fitri 2026.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (09/03/2026) menegaskan demikian.
"Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil hingga Idulfitri 2026, meskipun harga minyak mentah global tengah mengalami kenaikan akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Stok BBM, crude, dan LPG kita rata-rata berada di atas minimum nasional," kata Bahlil.
Pemerintah terus memantau situasi di Selat Hormuz, mengingat sekitar 20-25% impor minyak mentah Indonesia melewati jalur tersebut, yang membuat APBN sangat rentan terhadap fluktuasi harga global jika terjadi gangguan distribusi permanen.
Editor : M. Ainul Budi