Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

​7 Tambang Emas Terbesar di Dunia, Posisi Freeport Indonesia di Papua Bikin Ngelus Dada!

Maulana RJ • Jumat, 1 Mei 2026 | 05:30 WIB
Nevada Gold Mines, adalah tambang emas terbesar di dunia yang memproduksi 94.2 juta ton emas (Dok. Miningfrontier)
Nevada Gold Mines, adalah tambang emas terbesar di dunia yang memproduksi 94.2 juta ton emas (Dok. Miningfrontier)

Radar Jember - Di balik kilau batangan emas yang tersimpan rapat di brankas bank sentral dunia, tersimpan narasi kelam yang jarang diceritakan. Tujuh raksasa tambang emas dunia bukan hanya sekadar mesin pencetak kekayaan, melainkan pusat perdebatan abadi antara pertumbuhan ekonomi dan kehancuran ekosistem. 

Inilah potret nyata tujuh pabrik emas yang menggerakkan ekonomi dunia, sekaligus menorehkan luka permanen di wajah bumi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber dan berdasarkan laporan tahunan perusahaan masing-masing, data publikasi Bloomberg, serta laporan keberlanjutan (sustainability report) hingga 2025/2026 yang dirilis di berbagai pusat data internasional, menyebutkan sedikitnya ada 7 tambang emas terbesar di dunia hari ini, berikut sejumlah fakta-fakta  Fakta mencengangkan di balik tambang raksasa tersebut.

Baca Juga: Daftar Kecelakaan Kereta Paling Horor di Indonesia, Ada yang Menelan 200 Nyawa Sekaligus!

1. Tambang Nevada Gold Mines, Amerika Serikat. Berlokasi di Carlin, Eureka County, Nevada, tambang ini adalah raksasa yang menyatukan aset Barrick Gold dan Newmont. Membentang di lahan seluas lebih dari 7.000 kilometer persegi dengan kedalaman tambang terbuka mencapai 600 meter. Dengan investasi yang menembus angka USD 10 miliar (sekitar Rp155 triliun), tambang ini mempekerjakan lebih dari 7.000 orang. Produksinya mencapai 3,3 juta ons emas per tahun dengan omzet tahunan menyentuh USD 6,6 miliar (Rp102 triliun). Namun, dampaknya adalah degradasi lahan yang masif dan kontaminasi air tanah menjadi isu sosial yang terus membayangi.

2. Tambang Muruntau, Uzbekistan. Terletak di Zarafshan, Provinsi Navoiy, Uzbekistan, Muruntau adalah tambang terbuka terdalam di dunia yang mencapai 600 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman vertikal mencapai 600 meter di dalam perut bumi. Dioperasikan oleh Navoi Mining and Metallurgy Combinat dengan kontrak jangka panjang dari pemerintah, tambang ini mempekerjakan 50.000 orang. Produksi emasnya mencapai 2,5 juta ons per tahun dengan estimasi pendapatan hingga USD 5 miliar (Rp77 triliun). Secara politik, tambang ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, namun secara lingkungan, tumpukan limbah batu buangan yang menggunung menjadi ancaman ekologis yang sulit diatasi.

Baca Juga: Kepala BGN Dadan Hindayana Pakai Helikopter saat Kunjungan Kerja ke Jember

3. Tambang Grasberg, Indonesia. Berada di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, tambang ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Di atas lahan konsesi seluas lebih dari 200.000 hektare lebih, dengan kedalaman lubang tambang terbuka dan bawah tanah yang mencapai lebih dari 1.000-1500 meter, bahkan sumber lain menyebutkan lebih. Investasi mencapai USD 15 miliar (Rp232 triliun) dengan kontrak karya yang diperpanjang hingga 2041. Dengan 30.000 pekerja, tambang ini menghasilkan 1,5 juta ons emas per tahun dan omzet sekitar USD 4 miliar (Rp62 triliun). Dampak lingkungannya, berupa sedimentasi tailing di sungai, serta gesekan sosial-politik di Papua, telah menjadi isu krusial yang terus dipantau dunia internasional.

4. Tambang Olimpiada, Rusia. Terletak di Severo-Yeniseysky, Krasnoyarsk Krai, Rusia, tambang ini dikelola oleh Polyus Gold. Dengan luas lahan 450 kilometer persegi dan kedalaman 500 meter, investasi yang ditanamkan mencapai USD 3 miliar (Rp46 triliun). Mempekerjakan 10.000 orang, Olimpiada memproduksi 1,2 juta ons emas per tahun dengan pendapatan USD 2,4 miliar (Rp37 triliun). Dampak lingkungan dari operasional di wilayah Siberia yang ekstrem ini kerap dikritik karena polusi debu dan limbah beracun, sementara secara politik, tambang ini menjadi aset strategis Kremlin.

Baca Juga: Akal-akalan Trump Perpanjang Genjatan Sepihak Usai Kalah Diplomasi dari Iran

5. Tambang Pueblo Viejo, Republik Dominika. Berlokasi di Cotuí, Sánchez Ramírez, Republik Dominika, tambang ini adalah hasil kerja sama Barrick Gold dan Newmont. Menguasai lahan 5.000 hektare dengan kedalaman tambang mencapai 400 meter. Investasi mencapai USD 4 miliar (Rp62 triliun). Mempekerjakan 2.000 pekerja, tambang ini memproduksi 1 juta ons emas per tahun dan pendapatan USD 2 miliar (Rp31 triliun). Isu polusi air akibat drainase tambang asam menjadi pusat protes komunitas lokal yang menuntut transparansi lingkungan.

6. Tambang Kibali, Republik Demokratik Kongo. Terletak di Watsa, Haut-Uele, RD Kongo, dikelola oleh Barrick Gold dan AngloGold Ashanti. Luas lahan mencapai 1.800 kilometer persegi dengan kedalaman 500 meter. Investasi sebesar USD 2,5 miliar (Rp38 triliun). Mempekerjakan 6.000 orang, Kibali menghasilkan 800.000 ons emas per tahun dengan pendapatan USD 1,6 miliar (Rp24 triliun). Secara politik dan sosial, tambang ini berada di zona konflik, menuntut tanggung jawab besar perusahaan terhadap stabilitas wilayah dan hak asasi manusia.

7. Tambang Cadia Valley, Australia

Berlokasi di Orange, New South Wales, Australia, di bawah kelola Newcrest Mining (kini Newmont). Luas lahan 5.000 hektare dengan kedalaman tambang bawah tanah mencapai 1.500 meter. Investasi mencapai USD 2 miliar (Rp31 triliun). Mempekerjakan 1.500 orang, memproduksi 700.000 ons emas per tahun dengan pendapatan USD 1,4 miliar (Rp21 triliun). Meski teknologinya canggih, dampak polusi debu dan kebisingan telah memicu tensi dengan komunitas peternak lokal.

Editor : Maulana RJ
#nevada #Emas #tambang emas #Freeport #harga emas dunia