Radar Jember - Kepulangan Muhammad Bagir ke Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur pada Senin (16/3/2026) menjadi momen haru sekaligus penuh ketegangan.
Mahasiswa Teknik Komputer Universitas Qom ini akhirnya bisa bernapas lega setelah berhasil dievakuasi dari wilayah konflik yang mempertemukan Iran dengan kekuatan militer Israel dan Amerika Serikat.
Bagir, yang telah menetap di Iran sejak Maret 2022, menceritakan pengalamannya menyaksikan langsung proyektil maut melintas di langit Kota Qom.
"Saya melihat beberapa kali rudal di langit, nampak seperti asap bergerak cepat lalu hilang. Bahkan pernah terjadi ledakan hanya berjarak 2 kilometer dari pusat kota. Getarannya sangat terasa," ungkap Bagir saat ditemui di kediamannya, Senin (16/3/2026).
Sebagaimana diketahui, belakangan situasi di Iran memanas hebat setelah serangkaian serangan rudal Israel-AS menghantam beberapa titik.
Bagir menyebutkan bahwa masyarakat sempat dilanda kepanikan luar biasa, terutama saat tersiar kabar mengejutkan mengenai wafatnya Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, akibat serangan tersebut.
Pemerintah setempat pun langsung meliburkan aktivitas pendidikan selama tujuh hari sebagai masa berkabung nasional.
Baca Juga: Warisan Ali Khamenei dan Kejayaan Peradaban Bangsa Persia
Proses evakuasi Bagir bukanlah perkara mudah.
Karena pemerintah Iran menutup total akses jalur udara akibat perang, evakuasi harus dilakukan melalui jalur darat yang panjang.
Dibantu oleh KBRI Teheran dan KBRI Baku, Bagir menempuh perjalanan darat dari Teheran menuju Azerbaijan, melintasi perbatasan darat menuju Turki, hingga akhirnya bisa terbang dari Istanbul menuju Jakarta.
"Total perjalanan dari Kota Qom sampai ke Jember memakan waktu enam hari. Jalur udara di Iran tertutup total karena situasi perang, jadi penerbangan hanya bisa dilakukan dari luar wilayah Iran," katanya.
Baca Juga: Bahlil Bantah Isu Krisis BBM saat Presiden Prabowo Instruksikan Pembangunan Storage BBM di Sumatra
Meskipun digempur serangan udara, Bagir mencatat fenomena unik di mana ketahanan pangan di Iran tetap terjaga.
"Masyarakat masih beraktivitas, yang belanja tetap belanja. Harga susu, telur, beras, hingga daging ayam masih relatif normal meski situasi di luar sangat mencekam," tambah dia.
Kini, Bagir dapat merayakan Lebaran bersama keluarga dengan perasaan jauh lebih tenang, meskipun bayang-bayang konflik di Timur Tengah masih segar di ingatannya.
Baca Juga: Lolos dari Zona Merah: Mahasiswa Jember dan Malang Berhasil Dievakuasi dari Konflik Iran-AS.
Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian Luar Negeri melalui KBRI yang telah mengawal keselamatannya hingga kembali ke tanah air.
"Alhamdulillah sekarang lebih tenang, karena sempat kepikiran keluarga juga waktu di Iran. Dan saya mengucapkan terimakasih kepada KBRI di Iran dan Kementerian Luar Negeri yang membantu proses pemulangan saya," imbuh mahasiswa yang tengah menempuh tugas akhir tersebut. (mau)
Editor : Maulana RJ