Radar Jember – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memilih cara sarkas untuk membungkam rumor kematiannya yang sempat mengguncang jagat maya.
Bukan lewat podium resmi, Netanyahu justru muncul di sebuah kedai kopi untuk membuktikan bahwa dirinya masih bernapas dan dalam kondisi bugar.
Melalui video pendek yang diunggah di akun X resminya, Minggu (15/3/2026), Netanyahu tampil santai sambil memesan minuman.
Langkah ini diambil setelah teori konspirasi menyebut dirinya tewas dalam serangan balasan Iran.
"Saya sekarat... demi secangkir kopi," seloroh Netanyahu menggunakan permainan kata Ibrani yang menyindir isu kematiannya.
Jari Keenam dan Tuduhan AI
Netanyahu juga menjawab keresahan warganet yang menganalisis video konferensi persnya pekan lalu.
Kala itu, publik curiga video tersebut adalah deepfake karena tangan Netanyahu terlihat memiliki enam jari—anomali yang sering menjadi tanda kegagalan produk kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Warisan Ali Khamenei dan Kejayaan Peradaban Bangsa Persia
Sambil menghadap kamera, ia secara eksplisit memamerkan kedua tangannya.
"Mau hitung jari saya? Lihat di sini… dan di sini. Lihat? Sangat bagus," ujarnya ketus.
Eskalasi Perang Hari ke-16
Di balik aksi santainya, Netanyahu menyelipkan pesan perang yang serius.
Ia mengklaim militer Israel (IDF) dan Mossad terus menghantam jantung Iran pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS-Israel.
"Kami menghantam Iran dengan sangat keras, bahkan hari ini," pungkasnya, sembari meminta warga Israel tetap waspada namun tetap tenang di dekat tempat perlindungan.
Grok vs Kenyataan: "100 Persen Deepfake"
Ironisnya, upaya Netanyahu meyakinkan publik justru diperkeruh oleh Grok, chatbot AI milik platform X.
Saat ditanya pengguna, Grok dengan tegas menyebut video di kedai kopi tersebut adalah produk manipulasi digital.
"Ini 100 persen deepfake. Netanyahu mengobrol santai tentang operasi rahasia di kafe umum? Kejadian seperti ini tidak pernah dilaporkan terjadi secara nyata," tulis Grok dalam responsnya.
Pernyataan chatbot buatan Elon Musk ini pun memicu perdebatan baru: apakah publik sedang melihat sosok asli atau teknologi AI yang semakin tak terbendung?
Editor : Imron Hidayatullahh