Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Warisan Ali Khamenei dan Kejayaan Peradaban Bangsa Persia

Maulana RJ • 2026-03-11 12:42:02

Mendiang Sayyid Ali Khamenei. (Twitter/X Khamenei)
Mendiang Sayyid Ali Khamenei. (Twitter/X Khamenei)

TEHERAN, Radar Jember - Sejarah dunia tidak akan pernah lengkap tanpa menyebut Persia. 

Sebagai salah satu peradaban tertua yang masih eksis, Iran (dahulu Persia) bukan sekadar sebuah negara di peta Timur Tengah, tetapi simbol ketangguhan budaya yang telah melintasi ribuan tahun. 

Dari era Kekaisaran Akhemeniyah yang didirikan Cyrus Agung pada abad ke-6 SM, Persia telah memperkenalkan konsep hak asasi manusia pertama melalui "Cyrus Cylinder" dan sistem administrasi provinsi (Satrapi) yang sangat maju pada masanya.

Peradaban ini tidak hanya unggul dalam strategi militer, tetapi juga menjadi mercusuar ilmu pengetahuan melalui temuan-temuan jenius seperti Badgir (sistem pendingin ruangan alami) hingga Qanat (sistem irigasi bawah tanah) yang masih menginspirasi arsitektur modern.

Baca Juga: Jejak Presiden AS yang Menjadikan Negara Berdaulat Sebagai Mainan, dari George Bush Hingga Donald Trump

Karakter bangsa Persia dikenal sangat kental dengan apresiasi terhadap seni, sastra, dan etika sosial yang rumit. Salah satu yang paling unik adalah Taarof, sebuah sistem tata krama yang menekankan kerendahhatian dan penghormatan ekstrem dalam interaksi sehari-hari. 

Dalam kehidupan sosial-politiknya, Iran bertransformasi secara drastis dari monarki absolut di bawah kekuasaan Syah menjadi Republik Islam setelah Revolusi 1979.

Transformasi ini melahirkan sistem pemerintahan Wilayatul Faqih, sebuah struktur unik di mana ulama memiliki otoritas tertinggi (Supreme Leader) yang membawahi presiden dan lembaga negara lainnya guna memastikan keselarasan hukum dengan prinsip agama.

Baca Juga: Alarm Merah Energi Nasional: Mengapa Indonesia Harus Gemetar Melihat Selat Hormuz?

Masa kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei, yang menjabat sejak 1989, menjadi periode paling krusial dalam mempertahankan identitas revolusioner Iran di tengah kepungan sanksi internasional. 

Namun, sejarah mencatat babak kelam pada awal Maret 2026, ketika sang Pemimpin Tertinggi dilaporkan gugur akibat eskalasi invasi militer yang melibatkan serangan udara masif dari Amerika Serikat dan Israel ke jantung ibu kota Teheran.

Kabar ini mengguncang stabilitas kawasan dan memaksa Iran masuk ke dalam masa berkabung nasional selama 40 hari.

Baca Juga: Pecah Kontak Senjata AS-Iran, Nasib Mehdi Taremi dkk di World Cup 2026 di Ambang Boikot Perang - Radar Jember

Dewan Keamanan Nasional Iran dalam pernyataan resminya mengonfirmasi kepergian sang pemimpin sebagai kehilangan besar bagi dunia Islam. 

"Ayatollah Ali Khamenei telah mencapai derajat syahid saat menjalankan tugasnya menjaga kedaulatan bangsa di tengah agresi brutal zionis dan sekutunya. Kepemimpinannya akan selalu menjadi kompas moral bagi perlawanan kami," kata pihak otoritas resmi Iran, sebagaimana dilaporkan oleh media pemerintah IRNA (Islamic Republic News Agency), Senin (02/03/2026).

Kehidupan sosial-politik Iran kini berada di persimpangan jalan. Di bawah bayang-bayang konflik, Majelis Ahli (Assembly of Experts) dengan cepat melakukan pemilihan suksesor untuk mengisi kekosongan kekuasaan tertinggi.

Baca Juga: Abraham Samad Bongkar Kemarahan Presiden Prabowo Saat Tau Banyak Himbara Kucurkan Kredit Ribuan Triliun untuk Korporasi 'Naga'

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei, telah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.

Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menjaga stabilitas internal dan memastikan keberlanjutan garis politik yang keras terhadap campur tangan asing, terutama di tengah ancaman militer yang masih berlangsung.

Meskipun dihantam krisis keamanan, warisan intelektual Persia tetap menjadi kekuatan bawah sadar bagi rakyatnya. Iran modern adalah masyarakat yang sangat digital dan terdidik, di mana generasi mudanya mahir menyeimbangkan antara tradisi kuno dan teknologi modern.

Baca Juga: Dampak Perang Iran Vs Israel-AS Picu Gejolak Pasar Global, Gus Fawait: MBG dan KMP Bisa Jadi Proteksi

Ketangguhan ini berakar dari sejarah panjang mereka dalam menghadapi invasi, mulai dari bangsa Mongol hingga tekanan geopolitik modern, yang selalu berakhir dengan bangkitnya kembali identitas nasional mereka yang kuat.

Otoritas keamanan Iran menegaskan bahwa transisi kekuasaan akan berjalan sesuai konstitusi demi menjaga kesatuan negara. Ali Larijani, pejabat tinggi keamanan Iran, memberikan penegasan dalam sebuah petikan wawancara di televisi nasional.

"Bangsa ini telah dilatih melalui sejarah yang panjang untuk menghadapi badai. Meskipun kami kehilangan sosok besar, struktur Republik Islam tetap kokoh dan tidak akan goyah oleh intimidasi militer mana pun," katanya.

Baca Juga: Bahlil Bantah Isu Krisis BBM saat Presiden Prabowo Instruksikan Pembangunan Storage BBM di Sumatra

Kepergian Ali Khamenei di tengah invasi militer ini menandai berakhirnya sebuah era, sekaligus membuka lembaran baru yang penuh ketidakpastian bagi masa depan Timur Tengah. 

Dunia kini menanti, apakah "Tanah Bangsa Arya" ini akan kembali melahirkan inovasi diplomasi untuk bertahan, ataukah eskalasi konflik ini akan menyeret peradaban kuno tersebut ke dalam perang yang lebih luas.

 

Editor : M. Ainul Budi
#bangsa persia #IRAN #Israel #minyak dunia #peradaban persia #Palestina #ali khamenei #cyrus #timur tengah #Republik Islam Iran #persia #perang Iran AS Israel #garda revolusi iran (IRGC) #selat hormuz #Amerika Serikat