Radar Jember - Warga keturunan Jawa di Kaledonia Baru masih banyak yang melestarikan tradisi budaya asal leluhurnya. Di bulan Ramadan ini misalnya, mereka melakukan amalan ajaran Islam dengan tradisi Jawa.
Berikut kisah lanjutan Nasirudin Al Ahsani, dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember yang sedang berdakwah di sana.
Wajah-wajah Jawa di kota Noumea, ibu kota Kaledonia Baru atau New Caledonia itu kini mulai berbaur dengan corak budaya Barat. Namun ajaibnya, bahasa Jawa ngoko yang lugas masih fasih terucap dari bibir mereka sehari-hari.
Mereka memang warga setempat keturunan Jawa. Leluhur mereka pertama kali datang ke kepulauan yang ada di Samudera Pasifik pada 130 tahun lalu. Mereka dibawa penjajah kolonial Belanda dari tanah Jawa untuk dipekerjakan di sana.
“Percakapan memakai bahasa Jawa ngoko yang lugas menjadi pengalaman unik. Karena bentuk bahasa halus justru kurang dipahami di lingkungan sini,” tutur Nasirudin, Dai Ambasador Peduli Dhuafa yang sedang safari dakwah di Kaledonia Baru dengan takjub.
Kehadiran Nasirudin di Kota Noumea mendapat sambutan hangat dari komunitas keturunan Jawa. Di balik kehangatan silaturahmi yang terjalin, terselip sebuah kegelisahan mendalam.
Dosen lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini melihat langsung bagaimana generasi muda mulai menjauh dari kewajiban dan praktik ibadah harian.
“Sebagian generasi muda di sini terlihat mulai jauh dari agama. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kami para dai,” jelas Nasirudin dengan tatapan nanar.
Meski begitu, sisa-sisa tradisi Islam leluhur tidak sepenuhnya pudar. Lembaga pengurusan jenazah setempat tetap konsisten menggemakan tahlil dan azan di tengah modernisasi New Caledonia.
Termasuk tradisi tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal juga masih dilakukan oleh komunitas keturunan Jawa.
Tradisi di bulan Ramadan yang banyak dilakukan orang Jawa, juga dilakukan warga keturunan Jawa di Kaledonia Baru. Seperti salat Tarawih berjamaah dilanjut tadarus Al-Quran.
Menjelang Ramadan tiba mereka juga ziarah ke makam keluarga dan leluhur (nyadran). Termasuk menggelar tradisi megengan (persiapan spiritual dan sosial menyambut bulan Suci Ramadan).
Selain itu, mereka juga masih ada yang menjaga identitas budaya melalui pengajian dari rumah ke rumah. Mengadakan buka puasa bersama, dan penggunaan bahasa Jawa Ngoko dalam kehidupan sehari-hari, meski hidup dalam pengaruh gaya hidup Prancis.
“Identitas Jawa di sini bahkan diakui lebih melekat daripada Indonesia. Sebab, gelombang migrasi penuh derita itu terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka,” papar Nasrudin.
Pria asal Bojonegoro ini banyak berbincang dengan tokoh komunitas yang ramah. Ia mendengar kisah generasi awal kelahiran lokal yang akrab disapa dengan sebutan "Nyauli" oleh masyarakat setempat.
Keturunan "Nyauli" ini kini bahkan telah menyebar jauh hingga ke New Zealand. Bukti nyata ketangguhan perantau Jawa yang tak lelah mencari penghidupan lebih baik.
Ada pula kisah seorang warga bernama Boedjari Sunarto yang mengabdi sebagai sopir pejabat kota Noumea. Ia sangat dihormati karena kemahirannya berbicara dalam bahasa Prancis sekaligus bahasa Jawa.
Menjelang bulan suci, secercah harapan kembali menyala. Kerinduan akan siraman rohani mulai terlihat dari antusiasme warga menyambut kedatangan pendakwah dari Nusantara.
“Antusiasme masyarakat sangat terasa jelang Ramadan. Banyak yang menanyakan kedatangan dai dan berharap adanya pembinaan agama di Noumea,” ucap Nasirudin tersenyum lega.
Peringatan 130 tahun ini jelas bukan sekadar ajang nostalgia. Dari perihnya sejarah buruh kolonial, mereka perlahan bangkit menjadi komunitas lintas generasi yang tangguh.
Perubahan zaman dan modernitas memang tak bisa dilawan. Kaledonia Baru akan terus berkembang dan perlahan mengubah gaya hidup para keturunan pekerja kontrak tersebut.
Namun di dalam dada, nyala iman dan akar identitas Jawa itu tak boleh padam. Tujuannya satu, agar jati diri leluhur tetap utuh terjaga. (dwi)
Penulis: Nasarudin Al Ahsani
Editor : Imron Hidayatullahh