Radar Jember – Pemerintah Korea Selatan baru saja mengumumkan langkah ambisius untuk mendongkrak industri pariwisata mereka melalui Pertemuan Strategi Pariwisata Nasional ke-11 pada Rabu (25/2/2026).
Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah rencana pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan asal Indonesia.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Presiden Lee Jae Myung dan dihadiri Perdana Menteri Kim Min Seok ini menjadi momentum peluncuran inisiatif bertajuk "K-Tourism Merangkul Dunia".
Strategi ini bertujuan memanfaatkan fenomena Hallyu (gelombang budaya Korea) untuk memecahkan rekor kunjungan wisatawan mancanegara.
Pelonggaran Visa: Karpet Merah untuk Turis Indonesia
Inti dari strategi baru ini adalah memangkas hambatan birokrasi bagi wisatawan asing.
Turis Indonesia akan diberikan fasilitas bebas visa secara percobaan bagi wisatawan kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih.
Langkah ini menyambung kebijakan sebelumnya yang berlaku hingga Juli 2026, di mana turis Indonesia yang datang berombongan minimal tiga orang melalui agen perjalanan resmi sudah mendapatkan pembebasan visa.
Selain itu, Korea Selatan juga memberikan kelonggaran bagi pelancong dari Asia Tenggara dan Tiongkok:
- Visa Multi-Entry 5 Tahun: Bagi mereka yang pernah mengunjungi Korea sebelumnya.
- Visa 10 Tahun: Bagi penduduk kota-kota besar di negara-negara tersebut.
- Gerbang Imigrasi Otomatis: Perluasan layanan akses cepat yang kini merambah ke warga Uni Eropa.
Ambisi Mengejar Jepang dan Pemerataan Wisata
Meskipun Korea Selatan mencatatkan rekor 18 juta kunjungan pada 2025 (naik 15 persen dari tahun sebelumnya), angka ini masih jauh di bawah pencapaian Jepang yang sukses menjaring 42,7 juta wisatawan di tahun yang sama.
Untuk mengimbangi sang tetangga, Presiden Lee Jae Myung menekankan bahwa pariwisata harus dikelola sebagai "industri strategis nasional inti".
Ia ingin mengubah kegemaran terhadap K-pop menjadi kunjungan fisik ke seluruh penjuru Korea, bukan hanya terpusat di Seoul.
Beberapa langkah pemerataan wisata yang disiapkan antara lain:
- Konektivitas Regional: Penambahan rute internasional langsung ke bandara di daerah dan layanan bus bandara larut malam ke Provinsi Chungcheong dan Gangwon.
- Penginapan Premium "Parador": Mengadopsi model Spanyol dengan menyulap rumah tradisional, kuil, dan desa rakyat menjadi penginapan mewah.
- Pemesanan KTX: Jangka waktu pemesanan tiket kereta cepat diperpanjang agar wisatawan bisa merencanakan perjalanan lebih awal.
Perang terhadap "Getok Harga"
Menyadari pentingnya reputasi, pemerintah Korsel mengumumkan kebijakan tanpa toleransi terhadap praktik harga yang tidak wajar (overpricing).
Bisnis yang kedapatan menaikkan harga secara sepihak atau membatalkan reservasi hotel tanpa alasan sah akan menghadapi sanksi berat hingga penangguhan usaha.
Di Pulau Jeju, perusahaan sewa mobil juga akan diawasi ketat agar tidak menaikkan tarif secara gila-gilaan saat musim puncak.
Rekor Turis Indonesia
Indonesia tetap menjadi pasar yang sangat gemuk bagi Korea.
Data Organisasi Pariwisata Korea (KTO) mencatat kunjungan turis Indonesia pada 2025 mencapai 365.596 orang.
Angka tertinggi dalam sejarah sekaligus naik 8,8% dibanding tahun 2024.
Melalui kampanye "Tahun Kunjungan Korea 2027-2029", Korsel akan lebih fokus menawarkan gaya hidup penduduk lokal.
Mulai dari jalur kecantikan (K-Beauty), kuliner (K-Food), hingga pengalaman mendaki gunung khas Korea yang kini mulai digandrungi pelancong dunia.
Editor : Imron Hidayatullahh