Radar Jember - Sebuah klip yang menampilkan seekor penguin berjalan sendirian meninggalkan koloninya menuju pegunungan Antarktika mendadak menjadi sensasi viral di internet.
Meski rekaman ini sebenarnya sudah berusia hampir 20 tahun, kemunculannya kembali pada 2026, lengkap dengan musik mencekam dan caption bernuansa eksistensial, sukses memikat perhatian warganet.
Klip tersebut kini dikenal dengan julukan “Nihilist Penguin”.
Dalam video itu, seekor penguin tampak berjalan tenang dan mantap ke arah pegunungan, menuju wilayah yang hampir mustahil baginya untuk bertahan hidup.
Cuplikan ini berasal dari dokumenter karya Werner Herzog berjudul Encounters at the End of the World (2007), yang merekam perjalanan sang sutradara di Antarktika.
Dalam salah satu adegan paling ikonik, terlihat sekelompok penguin berjalan meninggalkan koloninya menuju feeding ground di tepian es.
Namun, di tengah perjalanan seekor penguin terlihat berhenti dan mematung sejenak.
Ia kemudian berjalan sendirian ke arah pegunungan di depannya, sekitar 70 kilometer menjauhi laut, koloni, dan sumber makanannya.
Ke arah yang jelas tak mungkin baginya bertahan hidup.
Perilaku tersebut tergolong sangat tidak biasa, karena penguin umumnya tetap berada dekat laut dan kelompoknya.
Herzog bahkan menyebut dalam narasinya bahwa penguin tersebut menuju “certain death”, menandakan kecilnya kemungkinan sang penguin untuk selamat.
Klip yang awalnya viral di Tiktok itu kemudian semakin meluas di Instagram, Facebook, dan platform lain.
Di media sosial, jutaan pengguna menafsirkan aksi penguin tersebut sebagai simbol krisis eksistensial, kelelahan mental, hingga bentuk perlawanan sunyi terhadap tuntutan hidup modern.
Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena quiet quitting, keinginan menjauh dari budaya kerja berlebihan, serta tekanan sosial.
Sebagian warganet bahkan menyebut penguin itu sebagai “pemberontak” atau “nihilist” yang memilih kehampaan dibanding rutinitas tanpa makna.
Pandangan ini sejalan dengan konsep nihilisme, yakni penolakan terhadap makna hidup yang dianggap inheren.
Sebagian respons warganet sepert, "Terkadang ada bebrapa orang berjalan di jalan itu bukan karna ingin, tapi karna menurutnya itu satu2nya jalan terbaik," tulis akun @___caa**.