Radar Jember – Usai balapan MotoGP di Mugello yang menjadi ajang dominasi Marc Marquez, mantan juara dunia lima kali, Jorge Lorenzo, turut memberikan pandangannya.
Dilansir Radar Jember dari GPone, Lorenzo dalam podcast Duralavita membahas performa Marquez, kondisi Francesco Bagnaia, serta bursa transfer panas antara Jorge Martin dan Aprilia.
“Saya cukup terkejut dengan hasil akhirnya,” ujar Lorenzo mengawali analisisnya.
“Marc menang dengan margin yang besar,” tambahnya.
Menurutnya, Bagnaia sempat memberikan perlawanan sengit selama 5 hingga 8 lap terakhir.
Namun, ritme sang juara bertahan mulai menurun di akhir lomba.
“Di Sprint Race kita sudah lihat pertarungan sengit, tapi balapan Minggu (22/6/2025) bahkan lebih menarik. Marc sepertinya masih punya cadangan performa di akhir lomba. Dia unggul dalam banyak aspek,” ujar Lorenzo.
Meski begitu, Lorenzo mengaku memahami kondisi sulit yang sedang dialami Bagnaia.
“Saya sendiri pernah mengalaminya. seperti pada 2011, atau saat baru pindah ke Ducati,” kenangnya.
Ia menduga masalah utama terletak pada mesin motor yang tidak bisa diubah selama musim berjalan.
“Chassis dan aero bisa dimodifikasi, jadi mungkin GP25 akan lebih baik di akhir musim nanti,” tambahnya.
Lorenzo Ungkap Dua Tipe Pembalap
Lorenzo juga menjelaskan perbedaan gaya balap antara Bagnaia dan Marquez.
Menurut dia, ada dua jenis pembalap: yang sensitif, dan yang agresif.
“Yang sensitif—seperti saya, Pecco, Biaggi, Kocinski—yang butuh semuanya sempurna untuk bisa maksimal. Lalu, ada tipe agresif seperti Capirossi, Stoner, dan Marc—yang bisa cepat dengan motor apa pun,” sebut Lorenzo.
Ia bahkan mengaku sempat mencoba motor Honda milik Marquez saat berada di tim Honda, dan mengaku terkesan. “Feeling pertama memang ‘wow, saya bisa mengerem jauh lebih lambat’, tapi kalau tidak sesuai gaya balapmu, waktu putaran tidak akan datang,” katanya.
Lorenzo juga menyoroti duel antara Pecco dan Marc di Mugello yang menurutnya cukup unik.
“Dalam duel kemarin, justru Pecco yang tampil agresif dan Marc lebih defensif. Ini tak biasa, karena Marc biasanya sangat menyerang. Tapi, sekarang dia tahu bahwa risiko benturan besar, dan dia tak mau ambil langkah ceroboh.”
Editor : Imron Hidayatullahh