radarjember.id-Suriah ingin mengamankan kembalinya Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari perjanjian damai.
Pada akhir tahun 2003, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan dia bersedia melanjutkan perundingan perdamaian dengan Israel.
Selama perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat pada tahun 1999-2000, Perdana Menteri Israel saat itu Ehud Barak menawarkan pengembalian sebagian besar wilayah Golan ke Suriah.
Di sisi lain, Suriah menginginkan penarikan penuh Israel ke perbatasan sebelum tahun 1967. Hal ini akan memberikan Damaskus kendali atas pantai timur Laut Galilea, sumber air tawar utama Israel.
Baca Juga: Viral Lima Kader NU Kunjungi Israel, PBNU Bertindak Tegas Pilih Mundur atau Diberhentikan!
Tapi, di sisi lain, Israel ingin mempertahankan kendali atas Galilea dan mengatakan perbatasannya terletak beberapa ratus meter di sebelah timur pantai.
Selain itu, kesepakatan dengan Suriah juga berarti pembongkaran pemukiman Yahudi di wilayah tersebut.
Opini publik di Israel secara umum tidak mendukung penarikan tersebut, dengan mengatakan bahwa Dataran Tinggi tersebut terlalu penting secara strategis untuk dikembalikan.
Baca Juga: TERBARU, Soal All Eyes On Rafah, Israel Telah Menutup Perbatasan Rafah
Kawasan tersebut kini menawarkan keuntungan signifikan bagi Israel, yang memiliki titik observasi yang sangat baik untuk memantau pergerakan Suriah.
Topografi tempat ini juga merupakan penghalang alami terhadap kudeta militer apa pun yang dilakukan Suriah. (dea/bud)
Editor : Adeapryanis