Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Di Al Baik Ngantrenya Bisa Sejam, tapi Tetap Saja Diburu

Safitri • Kamis, 26 Januari 2023 | 17:27 WIB
SENSASI AYAM REMPAH: Meski buka sehari sampai 20 jam, gerai Al Baik di Madinah ini tak pernah sepi.
SENSASI AYAM REMPAH: Meski buka sehari sampai 20 jam, gerai Al Baik di Madinah ini tak pernah sepi.
MADINAH, RADARJEMBER.ID - Banyak pilihan untuk bisa kulineran di Madinah. Tak harus jauh-jauh. Sekitar masjid banyak. Sehingga bisa kita lakukan kapan pun di sela-sela waktu ibadah ke masjid. Namun, jika ingin yang agak jauh, ambil saja waktu-waktu yang tak diisi oleh program dari travel agar tetap bisa salat berjamaah di Nabawi.

BACA JUGA : SMKN 3 Bondowoso Tanda Tangan Mou dengan PENS dan SEAMEO

Mau fast food jaringan internasional macam KFC, McD, atau bahkan Dunkin, semua ada. Tapi, khusus di Saudi rata-rata rasanya agak beda dengan yang di Indonesia. Pun menu yang disajikan, tak seperti yang kita jumpai di tanah air. Di gerai Dunkin, saya bisa mendapati nasi khas Arab. Padahal sejauh ini yang saya tahu cuma jualan donat.

Soal harga, standar. Tak terlalu mahal. Bisa jadi alternatif barang kali bosan menu hotel. Bisa juga jadi alternatif supaya kita nggak wira-wiri pulang ke hotel hanya untuk makan.

Fast food lokalan juga banyak. Paling banyak yang berbahan dasar ayam. Syawarma (kebab) juga banyak yang berbahan dasar ayam, selain tentu saja kambing. Bedanya dengan di Indonesia, kebanyakan semua gerai itu tak menyediakan tempat untuk makan. Di Madinah rata-rata take away alias beli untuk dibawa pulang. Jadi, jangan bayangkan bisa kongkow lama-lama di gerainya. Tapi, kalau mau kongkow tetap bisa. Beli makan dan minumnya, lalu santap di pinggir-pinggir jalan sambil menikmati spot-spot indah di Madinah. Banyak tempat duduk yang bisa digunakan untuk sekadar kongkow sambil selfie-selfie.

Jika di Indonesia gerai-gerai fast food banyak menyediakan saus tomat maupun sambal berlimpah, tak demikian di Saudi. Rata-rata yang dijadikan teman untuk menyantap ayam adalah saus bawang. Saus tomat hanya diberikan jika kita membeli menu nuget ayam. Di sachet-nya ada tulisan nugget sauce. Jika ingin dapat ekstra saus tomat, kita bisa request. Pelayan pun akan dengan royal memasukkan sachet saus ke kantong makanan.

Untuk yang suka pedas, jangan harap bisa mudah mendapatkan saus sambal. Hampir semua gerai tak menyediakan saus sambal. Jika ingin pedas, saya biasa menyiasatinya dengan mampir dulu ke minimarket untuk membeli saus sambal. Pun demikian di kulineran ayam paling kondang di Arab Saudi, Al Baik. Tak ada saus sambal.

Tentang Al Baik, mumpung di Saudi saya pun sejak awal sudah memasukkannya dalam list untuk dicoba. Datang ke gerainya langsung untuk menikmati sensasi rasa dan antreannya. Memang, kita bisa saja minta tolong tour leader atau pendamping rombongan untuk memesankan dan kita tinggal tunggu di hotel, lalu menyantapnya. Pendamping kami dari Persada Indonesia juga memfasilitasinya. Tak cuma urusan Al Baik. Mau apa saja pasti dibantu. Cukup by WA. Tapi, khusus Al Baik, kurang seru kalo nggak ikut ngantre.

Lokasi Al Baik di Madinah tak jauh dari Nabawi. Jika tak ingin tersesat, bisa pakai Google Maps. Gerainya lumayan besar. Tak seperti di Cornez Jeddah yang mirip lapak PKL. Di gerai dekat Nabawi ini, kita bisa memilih dine in maupun take away.  Untuk dine in, dibedakan lantainya antara yang single (sendirian) dan yang family. Untuk single di lantai dua, sedang family di lantai tiga. Lantai satu khusus pemesanan take away.

Jika berniat dine in, datang saja saat waktu benar-benar luang. Jangan dekat dengan waktu salat. Dijamin ngantre cukup lama. Antara 30 sampai 60 menit. Belum waktu untuk makan di tempat. Al Baik ini sehari-hari beroperasi sejak pukul 06.00–02.00 dinihari. Meski buka selama itu, jam berapa pun kita datang pasti antre.

Bagi lidah kita, kali pertama menyantap ayam Al Baik bisa jadi terasa agak aneh. Tidak seperti ayam yang banyak dijual di gerai fast food. Bumbu Al Baik banyak rempahnya. Gurihnya beradu dengan rempah yang menyelinap di tepung dan sela-sela daging. Pedasnya pun pedas rempah, bukan lombok.  Potongan ayamnya jumbo. Porsinya juga jumbo. Namun, begitu kita incipi, meski porsinya jumbo tak nek. Malah akan bablas dan ludes dengan sekejap. Bisa-bisa malah nambah.

Di Al Baik, porsi yang disajikan memang serbajumbo. Dalam satu porsi ada empat potong ayam, kentang, serta roti burger tanpa isi. Tapi, jangan harap ada nasi. Harga seporsi relatif murah dibanding isinya yang jumbo itu. Hanya 17 riyal.

Kalau menginginkan yang lebih banyak, ada yang seporsi berisi enam sampai delapan potong ayam. Bisa juga beli per potong. Tapi, lebih rumit dan jatuhnya malah lebih mahal. Kalau mau hemat beli saja porsi paling jumbo, makan rame-rame.

Mau kulineran khas Indonesia juga banyak. Gerai-gerai mirip PKL sudah sangat banyak yang buka. Bakso, tahu isi goreng tepung juga ada. Hanya beberapa meter dari Masjid Nabawi, tepatnya lurus dari pintu 333. Saat pandemi lalu, kulineran di tempat ini tak boleh buka. Tapi, sekarang sudah bebas buka dan kita bisa memilih macam-macam kulineran.

“Baru sejak Desember kemarin mereka pada buka semua,’’ kata Meta, warga asli Balongbendo, Sidoarjo, yang mengaku sudah 10 tahun kerja di Saudi. Dia bekerja sebagai guide, tour leader, juga muthawif. Dia mengaku merasakan betul dampak pandemi, khususnya di Madinah dan Makkah.

Dia mengatakan, lapak-lapak yang lurus pintu utama Nabawi itu sempat sepi. Tutup semua. Mereka yang jualan di situ mayoritas bukan warga Saudi. Tapi pendatang yang menyewa ke otoritas setempat. “Sekarang sudah hampir semua buka. Senang lihatnya,’’ katanya sambil melahap bakso seharga 20 riyal semangkuk, atau hampir 100 ribu kalau dirupiahkan.

Bakso seharga itu hanya ada pentol sedang satu dan tiga pentol kecil. Sayurnya kecambah dan kobis. Rasanya tentu tak sedahsyat Bakso Solo atau Bakso Samino. Tapi, bagi saya, itulah salah satu bakso terlezat yang pernah saya santap. Apalagi di tengah cuaca dingin Madinah yang lumayan menusuk. Suhu Madinah saat itu ada di kisaran 10 dan paling tinggi 14 derajat Celsius.

Jika mau yang lebih murah bisa jajan mi (semacam Pop Mie). Cuma 5 riyal sudah diseduh air panas. Lebih mahal dari tahu seiris yang digoreng dengan dibaluri tepung. Enam biji tahu goreng 10 riyal, alias hampir lima puluh ribu.

Saya pelototi satu per satu mi itu. mereknya seragam. Indomie, tapi ditulis dalam bahasa Arab. Saya mencoba ngincipi mi yang dibeli anak saya. Rasanya tidak segurih yang ada di tanah air. “Kok nggak segurih mi yang di Indonesia, Mbak?” tanya saya ke Meta, yang saat itu kebetulan satu meja dengan keluarga saya. Kami tak bisa memilih meja karena hampir semua full. Lha kok bisa juga ya ndilalah ketemu orang Balongbendo, Sidoarjo, tetangga istri saya.

Meta pun menjelaskan kalau mi yang dijual di Saudi itu beda dengan yang di Indonesia. Bukannya diimpor dari Indonesia, tapi ada pabriknya di Saudi. Nah, otoritas di Saudi, kata Meta, sangat ketat untuk penggunaan MSG. “Setahu saya nggak boleh. Kalau pengin gurih, ya, pakai ekstrak dari jamur. Saya bertahun-tahun di sini nggak ketemu micin,’’ katanya, lantas ketawa.

Dibukannya visa umrah selebar-lebarnya ini juga membuat senang Meta dan kawan-kawan seprofesinya. Jadi banyak job. Dia biasa sehari meng-handle tiga job. Bahkan bisa lebih. Dibayar per jam 300 riyal, setara sekitar Rp 1,3 juta. “Bisa empat jutaan dong sehari?” celetuk saya. Meta tersenyum, lalu mengangguk.

Dengan pendapatan sebesar itu, pantas saja jika Meta memilih tidur di hotel tiap harinya. Padahal, dia punya rumah di Saudi. Anaknya juga dikuliahkan di Saudi. Kirim-kirim ke saudara di kampung masih rutin bisa dia lakukan.

Besarnya pendapatan yang bisa didapat membuat banyak mahasiswa asal Indonesia yang nyambi bekerja seperti dirinya. Kata Meta, salah satu bekalnya bisa lancar bahasa Arab-Inggris. Ditambah soft skill yang lain, banyak suksesnya. “Jadi yo gak moro-moro, Mas,’’ katanya dengan logat Jawa yang sudah tak kental lagi.

Tapi, kata Meta, tak segampang itu menjalani pekerjaan seperti dia. Selain sifat humble, supel, dan cekatan, ada unsur untung-untungannya juga. “Yo semacam rejeki-rejekian juga. Tak semua orang yang punya pekerjaan seperti saya sukses,’’ katanya.

Beruntung sekali jalan hidup Meta. Bisa umrah terus, haji tinggal berangkat. Tak perlu antre, apalagi mikirin biaya yang 69 juta rupiah itu. (bersambung) Editor : Safitri
#Umroh