RADAR JEMBER – Musik populer terus berkembang mengikuti selera generasi muda. Niken Salindri justru memilih tetap membawa identitas Jawa dalam perjalanan bermusiknya.
Sinden asal Kediri itu menjadi salah satu generasi muda yang membawa kesenian tradisional Jawa ke ruang musik yang lebih luas.
Niken sudah mengenal dunia sinden sejak kecil.
Ia mulai belajar nyinden sejak usia tiga tahun dan tampil di panggung sekitar usia empat tahun.
Lingkungan keluarganya juga dekat dengan kesenian Jawa.
Sang ayah, Ki Degleng Gondosupono, merupakan seorang dalang.
Seiring bertambahnya usia, ia terusmembawa karakter sinden ke berbagai karya musik yang menjangkau pendengar lebih luas.
Salah satu contohnya terlihat melalui lagu Tinggi.
Niken berkolaborasi dengan duo hip-hop Malaysia, Kmy Kmo dan Luca Sickta.
Lagu tersebut mempertemukan vokal khas Niken dengan rap Melayu.
Kolaborasi tersebut membuat karakter sinden hadir dalam karya musik dengan warna berbeda.
Unsur tradisional Jawa menjadi bagian dari lagu yang mengusung genre hip-hop.
Niken menyambut kolaborasi itu sebagai kesempatan memperkenalkan seni sinden kepada pendengar yang lebih luas.
Lagu Tinggi juga mempertemukan musik modern dan tradisional yang dibawa Niken.
Karya Niken lainnya yaitu Lare Gunung, turut menunjukkan bagaimana lagu berbahasa Jawa masuk ke budaya digital.
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat sekitar 74,1 ribu video TikTok menggunakan lagu tersebut sebagai musik latar berdasarkan pengamatan pada 15/08/2026.
Penggunaan lagu berbahasa Jawa menunjukkan bahwa bahasa dan musik Jawa tidak hanya hadir dalam pertunjukan tradisional.
Keduanya juga dapat mengikuti perkembangan platform digital yang dekat dengan generasi muda.
Niken pun berada pada posisi menarik sebagai generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan musik populer serta membawa budaya Jawa sebagai bagian dari identitasnya.
Sinden yang selama ini lekat dengan pertunjukan tradisional kini bisa hadir bersama musik lintas genre dan menjangkau pendengar melalui platform digital.
Niken menunjukkan bahwa regenerasi kesenian Jawa dapat berjalan mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Penulis: Sasta Rintis Rahmawati
Editor : M. Ainul Budi