Momentum Hari Raya Lebaran Idul Fitri, tak selalu bisa dirayakan bersama keluarga. Seperti yang dirasakan petugas dapur Lapas Bondowoso. Bagaimana pengalamannya?
ILHAM WAHYUDI, Dabasah - Radar Ijen
Api dari kompor itu masih menyala, sejumlah orang tampak sibuk mengolah berbagai menu makanan. Mulai dari nasi hingga lauk pauknya. Pemandangan tersebut selalu terlihat dari ruangan kecil di Lapas Bondowoso, termasuk pada saat Hari Raya Idul Fitri.
Namun, menu saat idul fitri sedikit berbeda dari biasanya. Ada penyesuaian menu yang diberikan kepada warga binaan. Petugas dapur biasanya memberikan menu opor ayam, bertujuan mengobati kerinduan terhadap masakan rumahan khas lebaran.
Meski sedih tak bisa berkumpul dengan keluarga besarnya, petugas dapur Lapas Bondowoso, tetap berupaya memberikan kebahagiaan bagi para warga binaan. Siapa sangka, hal tersebut justru dianggap sebagai pengobat kerinduan berkumpul bersama keluarga dirumah.
Baca Juga: 264 Warga Binaan Lapas Bondowoso Diusulkan Terima Remisi Lebaran 2026
“Selain tidak bisa bersilaturahmi bersama keluarga besar. Kami juga tidak bisa menikmati masakan ibu, saat hari raya itu yang paling dicari,” kata Slamet Yulianto, Kasubsi Perawatan Lapas Bondowoso dengan wajah berkaca-kaca.
Slamet sudah bekerja di Lapas Bondowoso selama 22 tahun. Dia mengaku, ada perasaan sedih, dalam momen kebahagiaan tersebut, karena tak bisa berkumpul dengan keluarga. Namun mereka tetap bekerja secara profesional sesuai dengan tugasnya masing-masing.
“Biasanya kami berkumpul dengan warga binaan. Disana ada sedikit obat kerudungan kami sama keluarga,” ujarnya.
Selain Slamet Yulianto, hal yang sama juga dirasakan oleh Teguh Dadang Triogo, pengolah bahan makanan Lapas Bondowoso.
Dia juga dipastikan tidak bisa berkumpul bersama keluarga, pada momentum hari raya idul fitri. Karena harus menyiapkan menu makanan bagi ratusan warga binaan.
“Ini pengalaman pertama saya di bagian dapur. Jadi kalau dibilang sedih, ya sedih banget pastinya,” ucapnya.
Pria asal Bojonegoro itu, mengatakan meski tak ada menu khusus pada saat lebaran. Namun, mereka melakukan penyesuaian terhadap menu yang sudah ditentukan sebelumnya. Biasanya akan ada masakan berupa opor ayam, yang khusus disediakan untuk para warga binaan.
Baca Juga: Temukan Kaca Hingga Korek Api, Razia Kamar WBP Lapas Jember di Bulan Puasa
“Kami berupaya gimana caranya, sedikit banyak kami berikan cita rasa masakan ibu yang biasa dirasakan saat lebaran,” imbuhnya.
Untuk menyiapkan menu tersebut, biasanya petugas akan memasak lebih awal dari hari-biasa. Mereka mulai memasak sejak jam 01.00 dini hari.
Padahal biasanya, mereka mulai memasak pada pukul 03.30 dini hari. Hal tersebut dilakukan, dengan mempertimbangkan persiapan shalat idul fitri dan kunjungan keluarga warga binaan. “Sebelum shalat Ied, warga binaan makan terlebih dahulu,” pungkasnya. (bud)
Editor : M. Ainul Budi