Radar Jember - Gowok: Kamasutra Jawa (2025) adalah film drama budaya terbaru karya Hanung Bramantyo yang akan menghiasi layar lebar Indonesia mulai 5 Juni 2025.
Mengangkat tradisi kuno yang nyaris terlupakan, film ini menyelami praktik gowok, sebuah sistem pembelajaran kehidupan rumah tangga bagi para pemuda Jawa, yang tak hanya mencakup aspek seksual, tetapi juga budi pekerti, keselarasan batin, dan filosofi cinta.
Tradisi ini, yang dahulu berkembang di Banyumas dan Purworejo, diyakini berasal dari pengaruh seorang perempuan Tionghoa bernama Goo Wok Niang yang datang bersama armada Laksamana Cheng Ho sekitar tahun 1415.
Film ini mengikuti kisah Ratri (Raihaanun), perempuan cantik dan cerdas yang sejak kecil diasuh oleh Nyai Santi (Lola Amaria), seorang gowok legendaris.
Ratri ditakdirkan mewarisi ilmu dan peran ibu angkatnya. Namun, hidupnya berubah ketika cinta pertamanya, Denmas Kamanjaya (diperankan Devano Danendra saat muda, dan Reza Rahadian saat dewasa), mengkhianatinya.
Dua puluh tahun kemudian, Kamanjaya kembali tapi bukan untuk Ratri, melainkan untuk menitipkan putranya, Bagas (Ali Fikry), agar belajar pada Nyai Santi.
Takdir mempermainkan mereka ketika Bagas, tanpa mengetahui masa lalu ayahnya, jatuh cinta kepada Ratri, sang gowok.
Tak sekadar mengumbar sensualitas, film ini justru berani menampilkan sisi filosofis dari ajaran-ajaran Jawa klasik seperti Serat Centhini, Wulangreh, dan Nitimani, yang mengupas hubungan suami-istri bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga spiritual dan etis.
Hanung menyajikan kritik sosial yang subtil terhadap tabu-tabu seksual, patriarki, dan peran perempuan dalam budaya tradisional.
Tayang perdana di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025, Gowok: Kamasutra Jawa (2025) mendapat perhatian internasional karena keberaniannya mengeksplorasi tema yang selama ini dianggap sensitif.
Film ini bukan sekadar drama romantik berlatar Jawa klasik, tetapi juga refleksi budaya yang kaya makna.
Penulis: Zahra Fadia Siti Haliza