radar jember - Raya and the Last Dragon, yang dirilis oleh Walt Disney Animation Studios pada Maret 2021, adalah karya animasi epik yang membawa angin segar dalam dunia perfilman Hollywood dengan menghadirkan kisah fantasi berlatar budaya Asia Tenggara.
Film ini disutradarai oleh Don Hall dan Carlos López Estrada, serta ditulis oleh Adele Lim (Crazy Rich Asians) dan Qui Nguyen, yang berhasil menciptakan narasi penuh aksi, nilai-nilai luhur, dan visual yang memukau.
Mengangkat tema kepercayaan dan persatuan, film ini menjadi salah satu proyek paling ambisius Disney dalam hal keberagaman budaya dan representasi.
Film ini berlatar di dunia fiksi bernama Kumandra, sebuah negeri kuno yang dulunya dipenuhi oleh kedamaian dan sihir, berkat kehadiran naga-naga sakti yang hidup berdampingan dengan manusia. Namun, ketika kekuatan jahat bernama Druun menyebar dan mengubah manusia menjadi batu, para naga mengorbankan diri mereka untuk menyelamatkan umat manusia.
Lima abad kemudian, ancaman itu kembali.
Di sinilah kita bertemu dengan Raya (disuarakan oleh Kelly Marie Tran), seorang pejuang dari wilayah Heart, yang memulai perjalanan lintas negeri demi menemukan naga terakhir bernama Sisu (disuarakan oleh Awkwafina), dengan harapan mempersatukan kembali pecahan kristal naga yang bisa mengusir Druun dan memulihkan Kumandra.
Petualangan Raya bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan emosional untuk belajar mempercayai orang lain kembali setelah dikhianati oleh seseorang yang pernah ia anggap teman.
Ia bertemu berbagai karakter dari lima wilayah Kumandra yang berbeda seperti Heart, Fang, Spine, Talon, dan Tail yang masing-masing membawa konflik, nilai, dan warna tersendiri dalam narasi. Karakter Sisu sendiri tampil berbeda dari naga dalam mitologi Barat.
Ia lebih mirip naga air dari budaya Asia, dengan sifat yang ceria dan kebijaksanaan yang tak terduga.
Kombinasi antara desain karakter, koreografi pertarungan yang terinspirasi dari berbagai seni bela diri Asia Tenggara seperti Silat dan Muay Thai, serta pesan moral yang kuat menjadikan Raya and the Last Dragon sebagai film animasi yang tidak hanya menghibur tapi juga bermakna.
Di balik layar, Raya menyimpan banyak fakta menarik yang menunjukkan betapa serius Disney menggarap akurasi budaya dalam film ini.
Tim produksi melakukan riset lapangan ke negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Laos, dan Kamboja.
Mereka juga bekerja sama dengan Cultural Trust, tim penasihat budaya yang terdiri dari sejarawan, akademisi, seniman, hingga praktisi bela diri dari kawasan tersebut untuk memastikan representasi yang menghormati sumber budayanya.
Salah satu detail menarik adalah bahwa makanan favorit karakter dalam film, seperti sup tom yum dan sate, benar-benar diambil dari kekayaan kuliner Asia Tenggara.
Fakta lain yang patut dicatat adalah bahwa Raya and the Last Dragon merupakan film animasi Disney pertama yang diproduksi sepenuhnya dari rumah akibat pandemi COVID-19.
Lebih dari 400 seniman dan animator bekerja secara remote untuk menyelesaikan film ini, membuktikan ketangguhan industri kreatif di tengah keterbatasan global.
Film ini juga mendapat pujian atas keberanian Disney dalam menempatkan karakter utama perempuan Asia sebagai tokoh sentral dalam film aksi-petualangan yang serius, menjadikannya simbol representasi yang penting bagi generasi muda.
Dengan pesan universal yang sangat relevan, terutama di tengah dunia yang penuh polarisasi, film ini menjadi pengingat bahwa keajaiban sejati muncul saat kita mau menurunkan ego dan bekerja sama, meskipun bersama orang yang berbeda pandangan.
penulis = Zahra Fadia Siti Haliza
Editor : M. Ainul Budi