radar jember - Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai pengacara ternama dengan segudang kontroversi, Hotman Paris Hutapea kini memulai babak baru dalam hidupnya dengan mewujudkan janji lama membangun masjid megah.
Proyek ambisius senilai puluhan miliar rupiah ini tidak hanya menjadi bukti rasa syukur Hotman kepada masyarakat, khususnya umat Islam yang telah mendukungnya selama ini, tetapi juga memicu perdebatan hangat di kalangan publik.
Masjid yang rencananya akan dibangun di kawasan Bekasi ini dirancang dengan konsep arsitektur yang memadukan gaya Ottoman dan sentuhan modern.
Hotman bekerja sama dengan developer ternama, Arsa Royal, untuk menciptakan sebuah tempat ibadah yang tidak hanya megah, tetapi juga sarat dengan teknologi terkini.
Desainnya menampilkan kubah besar dengan ornamen kaligrafi emas, serta menara setinggi 45 meter yang menjadi ikon baru di kawasan tersebut.
Area dalam masjid dirancang untuk menampung hingga 5.000 jamaah, dilengkapi dengan fasilitas canggih seperti sistem pendingin ruangan hemat energi, layar digital untuk pengumuman, serta tempat wudhu otomatis yang meminimalisir pemborosan air.
Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga akan menjadi pusat kegiatan sosial dan edukasi.
Hotman berencana menyertakan perpustakaan syariah dengan koleksi buku langka dan akses digital, ruang kelas untuk pembelajaran Al-Quran dengan metode tahfiz modern, serta klinik kesehatan dan layanan konsultasi hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Salah satu fitur unggulan adalah taman edukasi keluarga yang dirancang sebagai ruang terbuka hijau, dilengkapi dengan area bermain anak dan spot refleksi untuk pengunjung.
Hotman menegaskan bahwa proyek ini tidak sepenuhnya dibiayai olehnya, melainkan juga melibatkan partisipasi masyarakat.
Melalui platform donasi digital Lidik.id, publik dapat berkontribusi secara transparan, dengan laporan keuangan yang dapat diakses real-time. Hotman bahkan menyediakan rekening khusus yang diaudit secara independen untuk memastikan setiap rupiah yang masuk digunakan sesuai tujuannya.
"Saya ingin masjid ini benar-benar milik umat, bukan sekadar proyek pribadi," ujarnya dalam konferensi pers.
Proyek ini menuai beragam tanggapan. Di satu sisi, banyak pihak, termasuk sejumlah ulama seperti Ustaz Abdul Somad, menyambut baik niat Hotman dan melihatnya sebagai bentuk kepedulian sosial yang patut diapresiasi.
Namun, tidak sedikit yang skeptis, menuding Hotman sedang melakukan pencitraan, terutama di tengah isu panas seputar kehidupan pribadinya yang kerap menjadi sorotan media.
Beberapa warganet di media sosial bahkan mengaitkan pembangunan masjid ini dengan kemungkinan agenda politik tertentu, meskipun Hotman dengan tegas membantahnya.
Pembangunan masjid ditargetkan dimulai pada 1 Juni 2025, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi, dan diharapkan selesai sebelum Ramadan 2026.
Setelah beroperasi, Hotman berencana menyerahkan pengelolaan masjid kepada Badan Wakaf Nasional untuk memastikan keberlangsungannya.
Proyek ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, dengan penciptaan ratusan lapangan kerja selama masa konstruksi dan potensi peningkatan nilai properti di sekitarnya.
Terlepas dari pro dan kontra, langkah Hotman Paris Hutapea ini patut diapresiasi sebagai upaya memberikan kembali kepada masyarakat.
Keberhasilan proyek ini kelak tidak hanya akan diukur dari kemegahan bangunannya, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh umat Islam dan masyarakat sekitar.
Dengan komitmen transparansi dan keterlibatan publik, masjid ini berpotensi menjadi contoh baik bagaimana figur publik dapat berkontribusi nyata bagi kemajuan sosial dan keagamaan di Indonesia.
Editor : M. Ainul Budi