Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Viral Ibu dan Anak di Bengkulu Dapat iPhone dari Willie Salim, Dihujat karena Bawa Lukisan Milik Orang Lain

M. Ainul Budi • Senin, 14 April 2025 | 22:56 WIB
Photo
Photo

radar jember - Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan aksi berbagi dari konten kreator ternama, Willie Salim.

Kali ini, sorotan tertuju pada seorang ibu dan anak di Bengkulu yang viral setelah menerima hadiah iPhone dari Willie.

Namun, bukan hanya kisah haru yang mencuat, melainkan juga kontroversi seputar keaslian karya yang mereka bawa saat bertemu sang Influencer.

Peristiwa ini berawal dari unggahan video di kanal media sosial milik Willie Salim, di mana ia tengah menjalankan misi sosial berbagi hadiah kepada masyarakat.

Dalam salah satu sesi di Bengkulu, seorang bocah perempuan mendekatinya sambil membawa sebuah lukisan berbingkai dan menyodorkannya sebagai bentuk “persembahan”. Willie tampak tersentuh dengan niat anak tersebut, dan kemudian menghadiahinya sebuah iPhone baru.

Video ini dengan cepat menarik perhatian warganet dan menjadi viral di berbagai platform, termasuk X (dulu Twitter).

Banyak yang memuji kebaikan Willie dan menganggap momen tersebut mengharukan.

Namun, tak berselang lama, muncul tudingan bahwa lukisan yang dibawa sang anak bukanlah hasil karya pribadi, melainkan milik orang lain yang sempat viral di internet.

Berdasarkan kronologi unggahan dari akun X @kegblgnunfaedh, kejadian bermula saat acara berlangsung dengan banyak pengunjung memadati area.

Pelukis asli dari lukisan tersebut, yang bertubuh agak besar, kesulitan untuk naik ke panggung karena kondisi yang padat.

Menyadari hal itu, si anak yang tidak dikenal oleh pelukis menawarkan bantuan untuk membawa lukisan itu naik.

Ketika akhirnya ia berhasil naik ke panggung dan ditanya oleh Willie Salim, si anak mengaku bahwa lukisan itu dibuat oleh "kakaknya", meski kenyataannya mereka bahkan belum pernah saling mengenal sebelumnya.

Respons dari ibu si anak pun tak kalah mengundang reaksi. Ia tampak santai dan tak mempermasalahkan kebohongan tersebut, menganggap bahwa hadiah yang diterima adalah murni karena mereka telah mengikuti (follow) akun Willie Salim, bukan karena lukisan yang dibawa.

Kejadian ini memicu amarah warganet yang merasa simpati pada pelukis asli, yang sudah mengerahkan usaha namun justru tidak mendapatkan apresiasi.

Banyak yang menyayangkan sikap si anak yang masih kecil namun sudah lihai berbohong demi keuntungan pribadi.

Momen seorang bocah yang menerima hadiah iPhone dari Willie Salim menjadi viral, memicu perhatian publik setelah pemilik asli lukisan angkat bicara.

Melalui akun TikTok miliknya, seorang pemuda bernama Julian mengungkapkan bahwa lukisan yang dibawa oleh bocah tersebut sebenarnya adalah miliknya.

Julian pun mengaku kecewa, karena hadiah justru diberikan kepada bocah itu, bukan kepada dirinya sebagai pembuat karya tersebut.

Padahal ia sudah melakukan perjalanan yang jauh untuk bertemu dan menunjkkan hasil karya nya ke Willie Salim.

Di media sosial, sejumlah komentar menyindir sikap ibu yang dianggap tidak memberikan contoh yang baik soal kejujuran.

Ada pula yang menyebut bahwa aksi tersebut bisa mempengaruhi citra program sosial seperti yang dilakukan Willie Salim, yang selama ini dikenal konsisten berbagi kepada masyarakat kurang mampu secara acak dan tanpa syarat.

Di sisi lain, beberapa pengikutnya menyampaikan kekhawatiran bahwa kasus seperti ini dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk berpura-pura menyentuh hati demi mendapatkan hadiah.

Mereka berharap Willie dan tim dapat memperketat seleksi saat menggelar aksi sosial agar tidak disalahgunakan.

Kejadian ini kembali membuka diskusi soal budaya viral dan tren “mengemis konten” di media sosial.

Ketika hadiah diberikan secara spontan kepada siapa saja yang dianggap menarik atau menyentuh, muncul kecenderungan sebagian orang untuk membuat skenario demi memancing simpati.

Kasus ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, beberapa konten kreator juga menghadapi tantangan yang sama: memberi tanpa syarat, tapi berisiko dimanfaatkan.

Para pengamat budaya digital menilai pentingnya edukasi kepada publik soal etika bermedia sosial, termasuk menghargai karya orang lain dan membangun kepercayaan dengan cara yang jujur.

Meski penuh pro dan kontra, kasus ibu dan anak di Bengkulu ini menjadi cermin bagaimana satu momen kecil bisa mengundang perhatian besar dan menimbulkan efek luas di tengah era media sosial yang serba cepat.

Editor : M. Ainul Budi
#willie salim #bengkulu #iPhone