JAKARTA, RADARJEMBER.ID-Ada berita menggembirakan,Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau Kemendikbudristek akan meluncurkan film hitam putih hasil restorasi berjudul Dr. Samsi produksi tahun 1952.
Perlu diketahui, Film Dr. Samsi garapan Ratna Asmara, merupakan salah satu film bermateri seluloid 35mm tersimpan dalam koleksi Sinematek Indonesia dengan kondisi hampir punah dan tidak lengkap.
Ratna Asmara dikenal sebagai seorang sutradara perempuan pertama di Indonesia dan perempuan berbakat kerap membawa nuansa eksploratif ke setiap adegan karya ciptaannya. Dirinya juga cukup sering melibatkan alur cerita dengan visual nan indah.
Serta narasi kaya. Setiap karya Ratna Asmara tidak sekedar mencerminkan kepiawaian dalam pengarahan, tetapi juga menyajikan warisan budaya kaya dalam sejarah perfilman Indonesia.
Dengan begitu film-filmnya selalu menyajikan ciri khas kekayaan budaya nasional untuk disaksikan publik.Film Dr. Samsi bercerita mengenai perjalanan emosional seorang dokter bernama Samsi merawat anak hasil hubungan gelap dengan seorang perempuan.
Wanita itu tak lain bernama Sukaesih. Anak tersebut diberi nama Sugiat dan lantas makin tumbuh besar. Sugiat tumbuh dewasa dan menjadi pengacara tanpa mengetahui kebenaran ibu kandung.
Saat Sugiat pulang ke Indonesia dari sekolah hukum di luar negeri, ia harus menangani kasus Sukaesih dituduh membunuh suami sendiri bernama Leo.“Film ini diproduksi tahun 1952.”jelas Ahmad Mahendra Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Kemendikbudristek,.
Mahendra nenambahkan, film ini menjandi penanda penting industri sineas Indonesia namun tetap relevan hingga kini.Film tersebut menjadikan insiprasi ke pegiat sinema sekarabf untuk menampilkan tema-tema universal penggugah hati.
Hal itu melatarbelakangi kenapa Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek harus segera melakukan tindakan restorasi sebagai bentuk penyelamatan dari format seluloid ke format digital lebih modern.
“Restorasi dan peluncuran kembali film Dr. Samsi diharapkan dapat menambah kekayaan arsip dan penyelamatan materi yang selama ini pernah menjadi catatan kejayaan sinema nasional," imbuh pria tersebut.
Menurut Mahendra, pengarsipan dan restorasi film ini menjadi salah satu kerja nyata Kemendikbudristek menghargai peran para sutradara sekaligus karya-karya nereka untuk terlibat membangun Industri Perfilman Indonesia.
Kegiatan pengarsipan dan penyelamatan film-film kolosal pernah berjaya sudah dilakukan sejak 2019 melalui pendataan dan pemetaan judul sinema dengan materi pita seluloid di seluruh Indonesia. Dari situ kemudian dilakukan kurasi dengan beberapa kriteria.
“Film-film masa lampau dan telah didata dan memenuhi kriteria itu diarsip dan diselamatkan melalui alih teknologi dari format seluloid ke digital (restorasi).”imbuh Mahendra.Sampai saat ini, Kemdikbudristek telah melakukan restorasi sebanyak empat judul film.
Diantaranya” Darah dan Doa (The Long March), karya Usmar Ismail, produksi tahun 1950 dan direstorasi tahun 2013. Pagar Kawat Berduri, karya Asrul Sani, produksi tahun 1961 dan direstorasi tahun 2017.
Kemudian Bintang Ketjil, karya Wim Umboh dan Misbach Yusa Biran, produksi tahun 1963 dan direstorasi tahun 2018.Kereta Api Terakhir, karya Mochtar Soemodimedjo, produksi tahun 1981 dan direstorasi di tahun 2019 lalu.(*)
Editor : Radar Digital