Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Zamroni, Pria di Balik Layar Film ‘Sekar’ Wajah Kearifan Lokal Jember

Ivona • Kamis, 30 Desember 2021 | 17:55 WIB
PROSES PRODUKSI: Zamroni (kaus putih) saat menyutradarai pembuatan film ‘Sekar’. Dia melibatkan 43 mahasiswa dan sembilan alumni.
PROSES PRODUKSI: Zamroni (kaus putih) saat menyutradarai pembuatan film ‘Sekar’. Dia melibatkan 43 mahasiswa dan sembilan alumni.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Film yang berjudul ‘Sekar’ karya dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSFT) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) itu, berhasil menggaet banyak penonton. Film fiksi roman ini dianggap berhasil dan mewakili wajah kearifan lokal Jember. Visualnya yang banyak menyoroti kekayaan dan objek wisata di Jember, turut mendukung promosi pariwisata.

Malam itu, sekitar pukul 23.00, wajah Zamroni terlihat bersemangat. Saat itu, gala premier film ‘Sekar’ baru saja rampung. Penontonnya membludak. Tiket terjual ludes. “Ini karya fiksi pertama saya,” tutur Zamroni, saat keluar dari ruangan tempat diskusi film.

Film ini mulai digarap sejak 2014 silam. Rencananya, ia akan berkolaborasi dengan mahasiswa. Namun, gagal. Sebab, berbagai kendala terjadi di tahun itu. Selain itu, ia juga belum melihat potensi Jember yang sudah mengalami banyak perkembangan. “Saya belum menemukan orang yang pas memainkan karakter tokoh dalam naskah saya. Jadi, eman,” katanya.

Naskah yang sempat tidur panjang ini pun mulai digarap setelah Zamroni diingatkan oleh Alif, mahasiswanya yang saat ini menjadi asisten sutradara (astrada) film ‘Sekar’. “Akhirnya dia yang menjadi astrada,” sambungnya.

Memulai kembali, Zamroni harus melakukan banyak pembaruan pada film tersebut. Mulai dari bahasa, dialog yang dituturkan, dan beberapa bagian tambahan yang sesuai dengan kondisi saat ini. “Saya harus terus melakukan updating. Tanpa harus mengubah jalan cerita,” ungkapnya.

Bagi Zamroni, karya fiksi ini sangat berkesan. Sebab, ia memberanikan diri untuk keluar dari apa yang menjadi jati dirinya dalam dunia perfilman. Yakni film dokumenter. Apalagi, keduanya memiliki dua perbedaan yang sangat jauh.

Oleh karena itu, Zamroni dituntut untuk bisa beradaptasi dan mampu mengikuti ritme pembuatan film fiksi. “Sangat beda. Ada beberapa istilah yang dipinjam oleh dokumenter untuk fiksi. Seperti cerita, itu kan elemen fiksi. Cuman persoalannya adalah cara menceritakannya,” ungkapnya.

Perbedaan lainnya adalah pada penggarapan film dokumenter haram untuk melakukan direct pada artis yang sedang mengambil gambar. Sedangkan pada film fiksi, metode ini sangat dianjurkan. “Ternyata itu susahnya luar bisa,” ujarnya.

Selain itu, dalam produksinya film ini juga melibatkan berbagai alumni dan mahasiswa . Melalui keterlibatan mereka, ia akhirnya bisa mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswanya pada tataran aplikasi keilmuan. Ia berharap, akan ada karya- karya film yang dihasilkan dari mahasiswa di Jember. Tentunya dengan tetap berlandaskan kearifan lokal Jember.

Reporter : Dian Cahyani/Radar Jember

Fotografer : Tim Produksi Film Sekar For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember Editor : Ivona
#Film #Headline #Universitas Jember