Surabaya – Di tengah gempuran aneka kuliner kekinian dan makanan cepat saji, beberapa jajanan pasar tradisional khas Surabaya kini harus berjuang keras untuk tetap eksis.
Makanan ringan yang kaya akan sejarah dan cita rasa otentik ini, perlahan-lahan mulai tersingkir dari lapak pasar, bahkan terancam punah.
Berikut adalah deretan jajanan pasar yang hampir punah.
Bongko Mentuk
Sebut saja Bongko Mentuk, jajanan yang dibungkus daun pisang dengan isian gurih dari santan, tepung beras, serta potongan daging ayam.
Iwel-Iwel
Kue kenyal berbahan tepung ketan dan beras dengan isian gula merah dan parutan kelapa, yang erat kaitannya dengan tradisi syukuran kehamilan tujuh bulanan.
Kini, menemukan penjual jajanan ini di pasar-pasar tradisional Kota Pahlawan menjadi tantangan tersendiri, bahkan sebagian besar hanya muncul saat momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadhan.
Sate Karak
Sate berbahan dasar usus sapi yang disajikan bukan dengan nasi, melainkan dengan ketan hitam. Dibumbui dengan taburan serundeng (kelapa parut) dan bubuk kedelai pedas.
Populer di era 1960-an dan kini sangat sulit ditemukan.
Pecel Semanggi
Hidangan berbahan utama daun semanggi yang dikukus, disiram bumbu pecel khas yang terbuat dari kacang, ubi jalar, kencur, dan sedikit petis. Disajikan unik di atas pincuk daun pisang dengan kerupuk beras sebagai "sendok".
Proses pembuatan jajanan tradisional ini, yang masih mengandalkan cara manual dan bahan-bahan alami seperti daun pisang, juga menjadi kendala.
Biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual di pasaran, serta semakin minimnya generasi muda yang mau melanjutkan keahlian membuat kue-kue ini, memperparah ancaman kelangkaan.
Meskipun demikian, upaya pelestarian terus diupayakan oleh beberapa pegiat sejarah dan komunitas kuliner lokal mulai mendokumentasikan resep-resep kuno ini secara digital, sembari aktif mempromosikannya sebagai bagian dari warisan kuliner Surabaya.
Sejumlah UMKM dan toko kue kini juga memanfaatkan platform daring untuk menerima pesanan jajanan langka ini dalam jumlah besar, terutama untuk acara adat atau hajatan, yang sedikit banyak membantu menjaga keberlanjutan produksinya.
Penulis: Lely Novia Rahmadani
Editor : M. Ainul Budi