RADAR JEMBER — Dalam warisan kuliner Indonesia, menu Sunda selalu menonjolkan satu elemen yang tak terpisahkan yaitu lalapan.
Ragam sayuran segar yang disajikan mentah atau setengah matang, didampingi sambal pedas, sering dianggap sebagai menu pelengkap sederhana.
Namun, di mata masyarakat Sunda, lalapan jauh lebih dalam maknanya, ini adalah cerminan filosofi hidup yang berakar kuat pada sejarah, geografi, dan kearifan lokal.
Kegemaran unik orang Sunda terhadap lalapan ternyata memiliki landasan sejarah yang sangat tua.
Jauh sebelum era modern, praktik mengkonsumsi sayuran segar ini sudah tercatat dalam berbagai naskah kuno.
Sejarah Sejak Abad Ke-10
Eksistensi lalapan dapat dilacak hingga ke zaman kerajaan, tepatnya pada abad ke-10 Masehi.
Hal ini dibuktikan dengan adanya penyebutan hidangan sejenis dalam Prasasti Taji yang ditemukan di Ponorogo.
Dalam prasasti tersebut, terdapat istilah "Kuluban Sunda" yang merujuk pada sajian yang pada dasarnya adalah lalap.
Kehadiran istilah ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi sayuran segar sudah populer dan memiliki identitas kuat dalam budaya makan masyarakat Sunda pada masa itu.
Selain bukti arkeologis, naskah-naskah kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang berasal dari abad ke-15 juga menggambarkan keanekaragaman masakan yang dikenal di Tatar Sunda, termasuk berbagai cita rasa dasar seperti lawana (asin), kaduka (pedas), hingga amba (masam).
Keberadaan klasifikasi rasa ini mengindikasikan bahwa kuliner Sunda telah memiliki sistem pengolahan yang matang, di mana lalapan dengan rasa segar alaminya berfungsi sebagai penyeimbang sempurna.
Faktor Geografi dan Kesuburan Alam
Kegemaran mengkonsumsi lalapan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis Jawa Barat.
Wilayah Pasundan diberkahi dengan curah hujan yang tinggi dan kondisi tanah yang subur, menjadikannya lumbung bagi berbagai jenis tanaman pangan.
Melimpahnya variasi tanaman memungkinkan masyarakat Sunda untuk secara maksimal memanfaatkan kekayaan alam tersebut sebagai bahan makanan utama, bukan hanya sebagai pendamping.
Hal ini juga didukung oleh minimnya pengembangan ternak besar seperti sapi di Jawa Barat, yang kala itu berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga fokus asupan protein beralih ke sumber nabati dan ikan air tawar, menjadikan sayuran segar kian vital dalam menu harian.
Lalapan: Lambang Kesegaran dan Keseimbangan
Lalapan adalah lambang dari kesederhanaan dan kesegaran. Sayuran yang disajikan mentah baik daun-daunan, umbi-umbian, buah muda, hingga bunga mengandung nutrisi dan serat yang tinggi.
Dalam filosofi makan Sunda, lalapan berfungsi sebagai penetralisir dan penyeimbang terhadap hidangan utama yang seringkali kaya bumbu, berminyak, atau pedas (seperti ayam goreng, pepes, atau ikan asin).
Tradisi ini telah dijaga ketat dari generasi ke generasi. Minimnya sentuhan kuliner asing hingga abad ke-19 membuat keotentikan lalapan Sunda tetap utuh.
Hingga kini, piring saji masakan Sunda terasa tidak lengkap tanpa kehadiran si hijau nan segar ini, menegaskan bahwa lalapan adalah warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, menghadirkan cita rasa alam ke meja makan.
Penulis: Lely Novita Rahmadani
Editor : M. Ainul Budi