BACA JUGA : Obati Para Pensiunan
Inilah yang digeluti oleh Abdul Fatah, pria asal Desa Kupang, Kecamatan Curahdami. Lewat ternak merak, dirinya bisa mengantongi jutaan rupiah. “Awalnya sih tidak menyangka bisa menghasilkan uang,” paparnya.
Merak yang diternak dan diperjualbelikan tersebut bukan burung merak yang dilindungi. “Ini merak dari India dan memang tidak dilindungi,” ucapnya. Pria berumur 35 tahun tersebut memulai ternak merak sejak tahun 2020 atau awal Covid-19 melanda.
Merak yang diternaknya pun hasil membeli dari orang lain. "Awalnya cuma tiga ekor merak saja," ungkap kepada Jawa Pos Radar Ijen. Fatah memelihara merak karena terpikat pesonanya.
Selain itu, dirinya menyampaikan, pada mulanya tidak percaya dan merasa sangat takut untuk menbudidayakan merak. Fatah mengatakan, burung merak yang tergolong mahal tersebut adalah merak berjenis blorok. "Anakannya saja, masih umur 1 bulan sudah mencapai harga Rp 3,5 juta," terangnya. Dirinya menambahkan, harga jual burung merak semakin tua semakin mahal.
Untuk pembelinya, rata-rata dari luar kota, bahkan luar provinsi. "Ada yang dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Madura," cetus Fatah. Merak jenis blorok yang diternaknya bisa melahirkan anakan yang berjenis merak putih atau biru albino.
Dia menyatakan, burung merak yang dibudidayakannya bisa bertelur dua kali dalam seahun. Meski begitu, tak semua telur bisa berhasil menjadi anakan. "Kalau bertelur 15, yang jadi bisa 10 anakan saja," jelasnya. Dirinya mengaku telah menjual berkali-kali anakan merak blorok. Harga paling tinggi yang didapat untuk anakan merak berusia tiga bulan yaitu Rp 7,5 juta. (mg5/c2/dwi) Editor : Safitri