Radar Jember – Mata uang Garuda sukses membalikkan keadaan dan menutup perdagangan jelang akhir pekan dengan hasil gemilang.
Setelah sempat terseok-seok sejak pagi, rupiah akhirnya berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berkat dorongan sentimen positif dari melemahnya indeks dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Refinitiv, nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan pada Jumat (26/6/2026) dengan apresiasi sebesar 0,06% ke level Rp17.905/US$.
Catatan penutupan ini berbanding terbalik dengan kondisi pada pembukaan pasar pagi tadi, di mana rupiah sempat terdepresiasi 0,20% ke level Rp17.950/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, tekanan terhadap mata uang domestik sebenarnya sempat semakin mendalam.
Mata uang Garuda tercatat sempat terperosok hingga menyentuh level terlemah harian di posisi Rp17.985/US$, atau hanya terpaut tipis dari level psikologis krusial Rp18.000/US$.
Beruntung, menjelang bubaran pasar, rupiah berhasil memangkas seluruh pelemahan tersebut dan berbalik menguat hingga lonceng penutupan berbunyi.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap 6 mata uang utama dunia terpantau terkoreksi 0,08% ke posisi 101,340 pada pukul 15.00 WIB.
Pergerakan rupiah hari ini memang tidak lepas dari dinamika naik-turunnya dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS dilaporkan sempat menghentikan reli penguatan yang sudah berlangsung selama 3 hari beruntun pada perdagangan Kamis.
DXY bergerak turun dari level terkuatnya sejak Mei 2025, meskipun secara umum masih berada di jalur penguatan mingguan kedua berturut-turut semenjak konflik Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari.
Selain faktor eksternal tersebut, para pelaku pasar saat ini juga masih mencermati rilis data inflasi AS. Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE) yang menjadi indikator inflasi pilihan bank sentral AS reported naik 4,1% secara tahunan (year-on-year) pada Mei 2026.
Kenaikan ini dinilai sejalan dengan ekspektasi para ekonom dan menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup di AS masih tetap tinggi, terutama setelah konflik Timur Tengah ikut memicu lonjakan harga energi global.
Dari dalam negeri, pemerintah terus merumuskan langkah taktis untuk memangkas ketergantungan terhadap mata uang Paman Sam tersebut.
Salah satu strategi yang tengah dimatangkan adalah rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China yang dikenal sebagai Panda Bond.
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menegaskan bahwa rencana penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari langkah diversifikasi sumber pembiayaan negara.
"Alasan penerbitan Panda Bond ya untuk mencari sumber pembiayaan yang lain atau dapat dikatakan diversifikasi. Jadi dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (26/6/2026).
Melalui variasi sumber pembiayaan yang lebih beragam, risiko APBN dari fluktuasi tajam dolar AS diharapkan menjadi lebih terukur dan terbatas.
Baca Juga: Sentimen Hawkish Global Hantam IHSG, Sektor Energi hingga Infrastruktur Terkapar
Herman menilai pasar China sangat menarik lantaran memiliki tingkat permintaan yang tinggi terhadap surat utang Indonesia dengan harga yang dinilai masih sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga sempat mengutarakan bahwa instrumen Panda Bond memegang peranan strategis dalam diversifikasi surat utang pemerintah.
Menariknya, skema pembiayaan ini juga dapat diintegrasikan dengan mekanisme Local Currency Transaction (LCT), sehingga prosesnya sama sekali tidak perlu bergantung pada konversi ke mata uang dolar AS.
Editor : Imron Hidayatullahh