Radar Jember – Masalah yang sering dihadapi investor pemula kadang bukan berasal dari sulitnya melakukan analisis.
Justru kecenderungan ikut-ikutan atau fear of missing out (Fomo) yang sering berujung pada keputusan investasi yang disesali.
Fenomena itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Seminar Nasional yang digelar Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jember di Aula Zainuri, Rabu (10/6).
Baca Juga: GEGER LAGI! Alihkan Objek Jaminan Fidusia, Debitur di Jember Divonis 1 Tahun 6 Bulan Penjara
Menurut Ketua Panitia Dimas Ilham Yudhistira, minat generasi muda terhadap investasi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, tingginya antusiasme tersebut tidak selalu diiringi kesiapan mental dan pemahaman yang memadai.
Akibatnya, tidak sedikit investor pemula yang mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi yang sedang ramai dibicarakan.
"Anak muda sekarang sangat tertarik berinvestasi. Tapi sering kali keputusan yang diambil didasarkan pada rasa takut ketinggalan peluang, bukan karena memahami instrumen yang dipilih," ujarnya.
Dalam seminar tersebut, peserta dibekali cara menghindari jebakan Fomo. Salah satunya dengan menetapkan tujuan investasi sejak awal dan mengenali profil risiko masing-masing.
Investor juga diminta tidak mudah tergoda informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Selain itu, peserta diajak memahami pentingnya strategi investasi jangka panjang. Dengan memiliki rencana yang jelas, investor tidak mudah panik saat pasar bergejolak maupun terburu-buru membeli aset hanya karena harganya sedang naik.
Disiplin terhadap target investasi dinilai lebih penting dibanding terus mengikuti tren yang berubah setiap saat.
Dalam Seminar tersebut juga ditekankan bahwa keberhasilan investasi tidak ditentukan oleh kemampuan menebak pergerakan pasar, melainkan konsistensi, pengelolaan risiko, serta kemampuan mengendalikan emosi saat mengambil keputusan.
Seminar yang diikuti ratusan mahasiswa dan pelajar SMA itu menjadi bagian dari upaya peningkatan literasi keuangan di kalangan generasi muda.
Baca Juga: Persid Jember Perpanjang Kutukan 18 Tahun, Eks Asisten Manajer Angkat Bicara!
Dimas berharap, peserta tidak hanya tertarik mulai berinvestasi, tetapi juga memahami cara berinvestasi secara sehat dan terhindar dari keputusan yang merugikan akibat fomo.
"Kami ingin peserta memahami bahwa investasi bukan soal ikut-ikutan. Yang paling penting adalah memahami risiko dan tujuan keuangan masing-masing," pungkasnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh