Radar Jember – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terlemah hingga menembus level Rp18.015 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi (4/6/2026).
Kondisi ini menjadi sorotan tajam mengingat pelemahan tetap terjadi di tengah serangkaian langkah intervensi agresif yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).
Pada pembukaan pasar pukul 06.00 WIB, mata uang Garuda tercatat melemah 0,28 persen atau tergerus 49,4 basis poin.
Sepanjang pagi (04/06/2026), pergerakan dolar berada dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.024.
Baca Juga: Rupiah Sekarat Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Masih Mau Bilang Ekonomi Aman?
Tren negatif ini melanjutkan penutupan hari sebelumnya yang melemah 0,71 persen atau terkoreksi 125,50 poin ke posisi Rp17.966 per dolar.
Padahal, BI baru saja menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei lalu demi mengganjal pelemahan.
BI juga telah membatasi transaksi tunai pembelian valas tanpa dokumen pendukung maksimal US$25.000 per bulan yang berlaku sejak 02/06/2026 kemarin untuk menekan spekulasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa kemerosotan ini dipicu oleh pengelolaan fiskal yang ugal-ugalan.
Menurutnya, kondisi fiskal nasional saat ini justru lebih prima dibandingkan tahun lalu, terutama ditopang oleh sektor penerimaan pajak yang kuat.
Namun dari kacamata akademisi, kebijakan penurunan transfer ke daerah dalam APBN 2026 serta efisiensi belanja dinilai memberikan sinyal negatif ke pasar.
Kebijakan tersebut memperkuat persepsi bahwa ruang fiskal pemerintah kian terbatas, sehingga investor mulai menghitung ulang risiko berinvestasi di Indonesia.
Selain faktor internal, tekanan global akibat konflik di Timur Tengah serta tingginya kebutuhan valas musiman untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen memperparah kelangkaan pasokan dolar di pasar domestik.
Di sisi lain, kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang baru diwajibkan per 1 Juni kemarin efektivitasnya belum terlihat signifikan.
Langkah tersebut dinilai masih membutuhkan waktu karena sangat bergantung pada kedisiplinan para eksportir dalam melakukan repatriasi dana.
Kredibilitas ekonomi Indonesia kini akan diuji pada pertengahan bulan melalui agenda MSCI Global Market Accessibility Review serta FTSE Russell pada 19 Juni, yang dilanjutkan dengan MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni mendatang.
Penulis: Bakhtiyar Subandi
Editor : Imron Hidayatullahh