Radar Jember - Mata uang Garuda kian kehilangan taringnya. Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026), nilai tukar rupiah ambruk ke titik terendah dalam sejarah, terdepresiasi sebesar 127,5 poin (0,71%) ke level Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan di pasar spot dan beberapa bank BUMN, nilai jual dolar AS sudah meroket hingga Rp 17.975, menyisakan jarak tipis sebelum menyentuh psikologis baru yang mengerikan: Rp 18.000.
Anjloknya nilai tukar ini seolah menampar keras berbagai klaim dan janji manis pemerintah yang berulang kali menyatakan bahwa fundamental ekonomi domestik "aman dan terkendali". Alih-alih menunjukkan ketahanan, ekonomi Indonesia justru terlihat rapuh dan terus mendikte kehendak pasar global yang sedang memanas akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz.
Pengamat pasar uang menilai, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia dan langkah fiskal Kementerian Keuangan sejauh ini terkesan hanya seperti "pemadam kebakaran" sementara—reaktif tanpa solusi jangka panjang yang mengakar. Krisis ini diperparah oleh data internal yang mengkhawatirkan: inflasi Mei 2026 melesat ke angka 3,08% (YoY), didorong oleh melambungnya harga pangan (volatile food) dan energi.
Surplus neraca perdagangan barang yang selama ini dibanggakan pemerintah pun kini menyempit tajam menjadi hanya 89,1 juta dolar AS pada April. Keberhasilan surplus 72 bulan berturut-turut yang kerap dijadikan tameng retorika politik, nyatanya gagal membendung derasnya modal asing yang keluar (capital outflow).
Baca Juga: Rupiah Sekarat Jadi Rp17.600, Menkeu Purbaya Pede Ekonomi Membaik - Radar Jember
Jika pemerintah terus gagap dan gagal membalikkan keadaan, efek domino yang mengerikan sudah mengintai di depan mata. Di antaranya mulai dari tsunami inflasi dan harga barang pokok melejit; ledakan subsidi dan krisis energi; gelombang PHK massal sektor industri; hinggabeban utang luar negeri membengkak karena ruang fiskal negara untuk pembangunan sosial dan infrastruktur akan tersedot habis hanya untuk membayar bunga utang.
Publik kini menagih bauran kebijakan konkrit yang lebih berani dari pemerintah. Menenangkan pasar tidak bisa lagi hanya dengan narasi optimisme di mimbar pidato, sementara di dunia nyata, dompet masyarakat kian mengempis akibat rupiah yang terus sekarat.
Editor : Maulana RJ