Emas & Perak Anjlok di Tengah Perang! Inilah Alasan Mengapa Dolar AS Justru Jadi Pemenang per 12 Maret 2026
Imron Hidayatullahh• Kamis, 12 Maret 2026 | 11:32 WIB
Perak murni dan emas murni
Radar Jember - Pasar logam mulia dunia menunjukkan pergerakan yang cukup mengejutkan pada perdagangan Kamis pagi, 12 Maret 2026.
Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus mendominasi tajuk berita utama global, harga emas justru bergerak melandai.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas diperdagangkan di level US$ 5.153,27 per troy ons pada pukul 06.29 WIB, mengalami penurunan sebesar 0,43 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi US$ 5.175,45 per troy ons.
Anomali ini terjadi karena adanya pergeseran dana secara tiba-tiba ke aset dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields).
Indeks dolar AS yang melesat hingga ke level 99,23 membuat permintaan emas menurun karena biaya konversi yang lebih mahal.
Di saat yang sama, imbal hasil US Treasury mencapai angka 4,23 persen, level tertinggi sejak awal Februari lalu.
Kondisi ini menekan daya tarik emas di mata investor karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil tetap seperti yang diberikan oleh obligasi.
Penurunan lebih tajam justru dialami oleh perak yang anjlok hingga 1,54 persen pada Kamis pagi ke posisi US$ 84,99 per troy ons, setelah sebelumnya ditutup merosot 2,35 persen pada perdagangan Rabu di angka US$ 86,32.
Volatilitas perak yang lebih tinggi ini disebabkan oleh karakter gandanya sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri.
Meskipun permintaan fisik untuk sektor energi surya dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) tetap solid, likuiditas pasar perak yang lebih kecil membuatnya sangat sensitif terhadap guncangan makroekonomi jangka pendek.
Meski saat ini sedang berada di bawah tekanan, para analis menilai bahwa fundamental jangka panjang logam mulia masih cukup kuat.
Harga emas sendiri sebenarnya masih bertahan di kisaran rekor tertingginya di atas US$ 5.200.
Benturan antara kekuatan finansial makro dan risiko geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah diperkirakan akan menjaga permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi dalam jangka menengah, meskipun dolar AS dan suku bunga saat ini tengah mendominasi narasi pasar.