SUMBERSARI, RADAR JEMBER,- Jangan dikira semua barang yang dieskpor itu asli produk lokal. Ada barang-barang tertentu yang bahan bakunya diimpor dulu, setelah diberi sentuhan, produk baru diekspor ke luar negeri. Bahkan, ada produk tertentu yang hanya untuk mengejar brand, sengaja dimasukkan ke dalam negeri dulu sebelum akhirnya dikirim kembali ke luar negeri untuk dipasarkan.
Fakta itu terungkap dalam diskusi bertajuk Ngobrol Bareng Kadin di kantor sekretariat di kawasan perumahan Telaga Kautsar Antirogo, baru-baru ini. Diskusi itu dihadiri para pengusaha yang tergabung dalam Kadin Jember dan petugas dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai TMP C Jember.
Dalam diskusi tersebut terungkap, ada pihak yang pintar menangkap peluang kawasan berikat. Kawasan berikat ini adalah memiliki fasilitas di antaranya penangguhan bea masuk, bebas pajak pertambahan nilai, dan bebas cukai. Nah, fasilitas itu lantas ditangkap para pelaku usaha. Yakni dengan memasukkan barang-barang tertentu untuk kemduaian diolah lalu diekspor.
Barang-barang dari luar itu itu diberi nilai tambah sebelum kembali dilempar ke pasar luar negeri. Tapi, ada juga pihak-pihak yang memanfaatkan celah ini tanpa banyak memberi nilai tambah.
Abdul Khiolik SE Ketua Kadin Jember mengaku, dia baru tahu praktik-praktik seperti itu. Dia melihat, di satu sisi ini peluang bagus agar para pengusaha di Jember khsususnya UMKM untuk menembus pasar ekspor. Potensi pasar masih sangat terbuka.
Dia lantas mencontohkan adanya ekportir tembakau yang menggunakan bahan baku dari luar. Entah karena faktor kekurangan barang karena kontinyuitas produk yang tidak memnentu atau motif profit lebih.
Untuk yang bermotif profit ini menurut info yang dia dengar, caranya dengan memasukkan tembakau dari luar negeri, kemudian dipilah atau sedikit ada sentuhan, lalu dipacking dan diekspor lagi ke luar negeri.
“Lha kenapa tidak tembakau kita sendiri yang notabene brand tembakau Jember itu sangat bagus,’’ kata Kholik.
Mereka yang memasukkan tembakau luar ke Jember ini tujuannya hanya untuk mengambil brand. Bahwa, seolah-olah itu memang tembakau asli Jember. Selain itu, faktor produksi tembakau di Jember yang tidak kontinyu.
“Ini tantangan bagi kita semua, petani tembakau, pengusaha dan pemerintah,’’ katanya.
Kholik juga mengaku mendapat bocoran, produk manik-manik yang diespor dari Jember tak semuanya berbahan baku dari Jember. Tapi. Juga dari luar negeri yang diimpor dulu, lalu dimix, dikemas untuk kemudian diekpor lagi.
“Lha ini kan peluang tapi kita tidak bisa menangkapnya. Harusnya bisa kita produksi sendiri dengan bahan baku yang juga dari lokal, bukan diimpor dulu lalu diekspor,’’ tukasnya.
Vicky petugas petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai TMP C Jember mengatakan, memang ada pihak-pihak yang pintar menangkap peluang kawasan berikat tersebut.
Dan memang tidak ada persoalan mengmpor bahan baku untuk kemudian diberi nilai tambah dan dikirim lagi untuk dijual di luar negeri. Justru ini sebuah peluang dengan mengoptimalkan kawasan berikat.
Selain itu, dia menegaskan menembus pasar ekspor sebenarnya tak sulit. Namun, sejauh ini produk dalam negeri seringkali kalah duluan ketika hendak bermain di pasar ekspor. Termasuk produk-produk Jember sehingga akhirnya hanya produk tertentu yang bisa tembus ekspor.
Salah satu tips yang bisa ditempu adalah bersatu. Artinya, produk ekpor tersebut tidak main sendiri-sendiri. Tapi, bisa membantuk satu brand yang itu nanti dijual ke pasar luar negeri.
Dia mencontohkan kopi misalnya. Jangan bermain dengan merek yang sendiri-sendiri. Sebab, jika demikian akan muncul banyak merek.
Satu sisi itu bagus. Namun di sisi kekuatan dalam menembus pasar, sangat lemah. Sebab, produk ini akan masuk di pasar bebas.
Taruh kata satu merek kopi bisa menembus pasar ekspor. Sangat memungkinkan mereka nanti akan diganggu. Tak hanya dari pesaing, tapi juga dari buyer.
“Kalau muncul banyak merek dan main sendiri-sendiri, mereka nanti akan diadu. Ujung-ujungnya yang menang bukan kita tapi pemain di luar negeri. Mereka pakai strategi devide et impera,’’ kata Rivky.
Lain soal jika bisa bersatu. Vicky menegaskan, strategi itu akan memperkuat. Baik dari sisi kontinuitas maupun rantai pasok produk. Sehingga, pasar luar negeri tidak bisa memainkan produk ekspor kita.
Dia menyarakan, para pelaku UMKM ketika hendak menembus pasar ekspor tidak bermian sendiri-sendiri. Tapi, berjamaah alias bersatu. “Dengan bersatu misal kita punya produk bagus dan pasar luar negeri membutuhkan produk itu,daya tawar kita sangat kuat,’’ tegasnya.
Dalam sosialisasi yang dikemas dalam forum Ngobrol dengan Kadin kemarin, banyak hal yang diungkap. Bahkan soal regulasi dan siasat agar UMKM tembus ekspor.
DR Rendra Wirawan SE MM Wakil Ketua III Bidang UMKM, Koperasi dan Ekonomi Kreatif mengatakan, harus ada kolaborasi yang kongkret antara Kadin dengan bea cukai. Sehingga, UMKM di Jember bisa naik kelas. Dia mengatakan, di Jember ada ribuan UMKM. Bea Cukai juga harus ambil peran.
Sehingga, jika nanti ada UMKM yang naik kelas dan bisa mengekspor produknya ke luar negeri, akan menjadi salah satu capaian prestasi bea cukai pula. “Monggo, bersama bea cukai harus ambil peran, kami siap bersinergi,’’ katanya. (ras)
Editor : Radar Digital