Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Daya Beli Masyarakat Perlu Distabilkan Agar Tak Tereduksi Angka Inflasi

Radar Digital • Jumat, 5 Januari 2024 | 17:42 WIB
"Jika inflasi naik dan upah naik, maka tidak ada sebuah upaya peningkatan kemampuan daya beli masyarakat."  CIPLIS GEMA QORIAH  Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej
"Jika inflasi naik dan upah naik, maka tidak ada sebuah upaya peningkatan kemampuan daya beli masyarakat." CIPLIS GEMA QORIAH Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej

BANK Indonesia memiliki otoritas di bidang moneter. Salah satunya dalam pencapaian target inflasi. Tahun 2023 ditargetkan dengan range plus minus 1 persen. Artinya, jika ditargetkan 2,5 persen, range atas 3,5 persen dan range bawah 1,5 persen. Jadi, dalam hal ini ada range yang harus dicapai.

Inflasi tahunan atau year on year (yoy) Jember akhir 2023 turun. Pada tahun 2022 lalu inflasi Jember diketahui mencapai 7,39 persen karena gejolak korona, sedangkan inflasi tahun 2023 yang dirilis kemarin (2/1) turun menjadi 2,29 persen. Sementara, target inflasi nasional 3,0 persen plus minus 1 persen, dan inflasi nasional tercapai 2,61 persen dari target.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej, Ciplis Gema Qoriah, mengatakan, dari hal tersebut berarti daya beli masyarakat perlu distabilkan. Supaya daya beli tidak tereduksi oleh angka inflasi. Jika inflasi naik, otomatis jumlah barang berkurang dan itu akan memengaruhi kualitas pemenuhan basic yang diharapkan masyarakat.

Apabila inflasi telah mencapai target, artinya pencapaian atas stabilisasi harga dan daya beli masyarakat tercapai untuk memenuhi kebutuhan minimal yang dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, hal itu juga ada kaitannya dengan upah minimum yang diterima masyarakat. Kalaupun naik harus disesuaikan dengan besaran inflasi. "Jika inflasi naik dan upah naik, maka tidak ada sebuah upaya peningkatan kemampuan daya beli masyarakat," ucapnya.

Terlepas dari situasi kontestasi politik, dari sisi ekonomi, inflasi saat ini sudah sesuai. Jadi, jika inflasi menurun, artinya dalam meredam harga-harga tinggi sudah baik. Penggunaan range plus minus 1 sangat penting. Bila inflasi di bawah 1,5, maka artinya pertumbuhan ekonomi menurun dan tidak ada daya beli. "Jadi, ada di mana angka inflasi terlalu tinggi dari target terjadi pengurangan daya beli masyarakat. Tapi, kalau di bawah target batas bawah, artinya masyarakat tidak punya daya beli dan pertumbuhan tidak ada," jelasnya saat diwawancara, kemarin (3/1).

Saat ini di dalam negeri perlu adanya penguatan perekonomian masyarakat dari bottom-up bukan top-down. Inflasi yang agak rendah berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat supaya harga di bawah daya beli. "Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi makin bergairah," ucapnya.

Jika menginginkan pertumbuhan ekonomi tinggi, maka inflasi juga akan mengikuti. Seperti di Tiongkok yang tidak terlalu mementingkan inflasi tinggi. Jadi, tidak bisa lepas pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Jika pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah itu tidak mungkin terjadi. “Kalau demand tinggi, daya beli tinggi, pasti mereka konsumsinya juga tinggi. Jadi, tidak bisa dicari inflasi yang pas seperti apa, karena setiap kota memiliki kemampuan berbeda atas kemampuan permintaan dan penawaran," pungkasnya. (cad/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Inflasi