Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenaikan Harga Daging Ayam Sumbang Inflasi

Safitri • Jumat, 5 Mei 2023 | 22:36 WIB
JUAL BELI: Para pedagang daging ayam sedang melayani pembeli di Pasar Tanjung.
JUAL BELI: Para pedagang daging ayam sedang melayani pembeli di Pasar Tanjung.
SLAWU, Radar Jember – Kondisi ekonomi Jember pada April kemarin mengalami inflasi sebesar 0,21 persen. Pada sektor bahan makanan dan minuman, komoditas daging ayam ras menjadi penyumbang tertinggi. Walau begitu, peternak juga tidak begitu diuntungkan dengan kenaikan harga daging ayam itu.

BACA JUGA : Keren! Empat Siswa SMAN 1 Tenggarang Bondowoso Lolos ke OSN Jatim

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, sejak April 2023 Jember menempati urutan ketiga sesudah Kediri dan Banyuwangi. Penyumbang inflasi tertinggi pada April terletak pada kelompok atau sektor perawatan pribadi dan jasa sebesar 0,62 persen, disusul transportasi 0,52 persen. Sementara untuk sektor makanan, minuman, dan tembakau 0,12 persen. Penyumbang tertinggi sektor makanan, minuman, dan tembakau adalah harga daging ayam ras atau potong.

Hal itu karena kenaikan daging ayam ras begitu terasa saat Ramadan hingga Lebaran. Sayangnya, para peternak ayam pun tidak begitu merasakan dampak positif dari kenaikan harga daging ayam potong. “Saya jual ayam dengan harga kisaran Rp 38 ribu per ekor. Kalau untung paling tinggi Rp 2 ribu per ekor. Harga pakan sekarang cukup mahal, inflasi tersebut tidak ada dampaknya bagi kami,” beber Indra Sugiono, peternak ayam dari Wuluhan.

Yudi Santoso, pedagang daging ayam potong di Pasar Tanjung, mengatakan, setelah Lebaran harga daging ayam potong berangsur turun, meskipun dengan harga yang masih terbilang cukup tinggi, yakni kisaran Rp 37–38 ribu per kilogram. “Kemarin saat menjelang Lebaran memang harga ayam terbilang tinggi, sebesar Rp 60 ribu per kilogram. Namun, harga terebut hanya berlangsung selama masa takbiran dan H-1 sebelum Lebaran. Jika pada hari biasanya berkisar Rp 30 ribu satu kilogram,” bebernya.

Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), Haris Hermawan, adanya inflasi pada April banyak faktor yang menjadi pemicu. Bahan makanan yang paling tinggi adalah harga daging ayam potong. Namun, memang kenaikan tersebut tidak berdampak pada peternak ayam. Hal itu karena para peternak ayam juga diimbangi dengan permasalahan. Seperti kenaikan pakan ayam. “Jika mengacu berdasarkan yoy (year on year, Red) memang setiap Lebaran pastinya akan terjadinya kenaikan bahan pokok. Salah satunya kenaikan harga daging ayam,” jelasnya.

Menurutnya, untuk mencari solusi inflasi akibat kenaikan harga daging ayam potong, alangkah baiknya juga berimbas pada peternak. Mulai desa hingga RT/RW selayaknya juga melakukan pendampingan terhadap peternak ayam. Selain itu, akademisi juga ikut serta.

Hal itu agar peternak kuat secara kelembagaan hingga ekonomi. “Akademisi, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi untuk memajukan ekonomi dan mendukung para peternak,” imbuhnya. (mg4/c2/dwi) Editor : Safitri
#Jember #Inflasi