BACA JUGA : Bangunan Gedung Kian Ancam Penghijauan, Pentingkah Hari Sejuta Pohon?
Hartono, petani durian sekaligus pelopor dari Desa Wisata Kampung Durian, menjelaskan latar belakang dari terciptanya kawasan wisata itu. Dengan pakaiannya yang sederhana, memakai kaus dan sandal, Hartono bercerita awal mula memperjuangkan masyarakat untuk terus bisa bercocok tanam di kawasan hutan tersebut.
Menurutnya, dulu warga sembunyi-sembunyi untuk menanam dan masuk ke kawasan hutan. “Dulu masih belum ada perjanjian,” ucapnya. Meskipun ada hambatan untuk menanam di hutan, tetapi warga tetap menanam pohon durian di luar kawasan hutan.
Melihat potensi yang besar itu, Hartono bersama sejumlah warga membentuk sebuah organisasi, sebagai syarat untuk mengelola hutan. Dari pembentukan organisasi itulah, perjanjian antara masyarakat dengan Perhutani terjalin. “Dari sinilah warga bisa secara bebas menanam di kawasan hutan,” terang Hartono.
Saat ini sudah ada 12 ribu pohon durian milik warga yang ditanam di luar kawasan. Sedangkan untuk di dalam kawasan hutan sudah ada puluhan ribu pohon durian. Tetapi, untuk pohon durian yang siap produksi hanya sekitar tujuh ribu pohon. “Total puluhan ribu pohon durian di dalam kawasan hutan,” ucapnya.
Sekarang kondisi Hutan Rengganis sudah penuh dengan pepohonan. Beda dengan kawasan hutan lainnya. Sejak ada kesepakatan kerja sama itu, masyarakat terus berinisiatif menanam apa pun yang menghasilkan, seperti durian, petai, dan alpukat.
Tidak tanggung-tanggung, bibit durian yang dibeli oleh masyarakat merupakan bibit yang berkualitas super. Sebab, masyarakat saat ini mengerti, ketika mereka menanam dengan kualitas bagus, maka hasil yang didapatkan juga akan bagus. “Masyarakat sudah mandiri dan sadar sejak lama,” jelasnya.
Kini, tanpa disuruh, sejak adanya kerja sama dengan Perhutani, warga secara sadar mulai merawat dan ikut menjaga hutan. Hartono menyampaikan, meskipun hutan itu tidak dijaga oleh petugas, tetap akan aman terkendali. Tidak ada yang namanya maling hutan dan maling kayu. “Karena masyarakat sudah merasa memiliki sekarang. Jadi, tanpa disuruh sudah inisiatif menjaga hutan,” ucapnya.
Melihat potensi durian yang melimpah, sebagian besar warga desa berinisiatif untuk menciptakan kawasan wisata, yaitu Kampung Durian. Kurang lebih dua tahun lalu kawasan wisata itu dibangun. Ada yang unik dalam pengelolaan wisata itu. sistemnya adalah menaruh saham. Pengelolaannya pun terkoordinasi melalui satu pintu, sehingga tampak tujuan pembangunan wisata itu adalah untuk mengangkat perekonomian warga Rengganis. “Kami sistemnya menaruh saham di sini, khusus yang menaruh saham adalah warga Rengganis,” terangnya.
Sejak wisata itu dibangun, belum ada bantuan penanaman pohon durian satu pun dari pihak Pemkab Jember ataupun dari Perhutani Jember. Meski demikian, warga terus berinovasi dan mandiri untuk memajukan kampung wisata dan hutan. “Tidak ada bantuan bibit satu pun dari Pemkab Jember. terakhir tiga tahun lalu ada bantuan dari kementerian,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri